Tuesday, November 18, 2025

Sein ini Jeanar

Sein, yang menarik dari kamu itu apa ya?
Aku sampai lupa alasan jatuh cinta padamu
Mungkin karna suara lembutmu yang mengajarkanku membaca maps?
Mungkin bibirmu yang selalu melengkungkan senyuman saat melihatku?
Mungkin karna caramu berkendaraan saat ada aku?
Atau mungkin, hanya mungkin. 
Mungkin memang ada benang merah diantara kita?

Sein, ku pikir kamu harus tahu. 
Mencintaimu itu butuh perjuangan yang tidak sedikit. 
Ada ibuku yang menghawatirkanku di sebrang pulau. 
Ada temanku yang terus berusaha mengingatkanku. 
Ada sahabatku yang terus menjadi teman curhatku.
Dan ada aku, yang selalu berusaha memahami segala tindakanmu.

Sein, kamu bilang kamu sakit. 
Lalu, apakah kamu pikir aku ini tidak sakit?
Saat kamu bersama perempuan lain,
Saat ada perempuan di dalam media sosialmu, 
Saat perempuan lain duduk memelukmu diatas motor,
Saat temanmu menjelekkan aku, dan kamu tidak membelaku?

Sein, aku lelah sekali.
Tapi kenapa, kamu selalu saja berhasil membuatku tertarik?
Dan setiap usahaku menjauh, kau justru tidak tenang
Namun disaat aku kembali menerimamu, 
Justru kamu lagi lagi tidak menghargaiku

Sein, sebenarnya maumu itu apa? 

Tuesday, November 16, 2021

Dear Tata




Tata, sebenernya aku sama El udah nulis surat gitu. Tapi gajadi dikasih, karna malu dan awkward. Terus aku pribadi juga ngerasa lebay sekali cuma ditinggal 3 tahun aja kirim surat. Macem Cinta ditinggal Rangga. Aku anaknya sensitif, cengeng, perasa, bahkan mantanku bilang aku drama queen, lol. Inti dari tulisan ini, aku cuma mau Tata inget, Tata adalah salah satu teman yang berharga buat aku. Terima kasih selama ini udah sering jadi pendengar yang baik, nemenin disaat aku butuh, ngarahin aku pas lagi salah jalan, dan jadi temen serasa saudara. 

Aku belajar banyak dari Tata, dan aku berharap kedepannya nilai nilai positif dari Tata bisa aku ikutin. Mulai dari belajar lebih tegas, belajar mix and match baju haha, belajar sosialisasi, belajar pilah pilih temen, dan belajar ngehargain diri sendiri. Hidupku dari tahun 2018 mirip wahana Dufan, ga jelas, bikin panik, teriak, bikin trauma, tapi karna aku masih punya temen temen yang baik. Jadi aku bisa enjoy disetiap wahananya. 

Aku udah keliling kesana sini, dari di tinggal meninggal adek sendiri, kehilangan salah satu temen deket, ngerasain pahit manis di tempat kerja, bulak balik psikolog dan psikiater, ketemu partner yang waw bikin ngelus dada, di putusin pas lagi sayang sayangnya, sampe di gibahin mantan dimana-mana, lol. Semua itu aku lewatin ga sendirian, makanya aku engga jadi masuk RSJ. Masih punya temen yang bisa nyadarin buat ga gila gila banget. 

Sekarang, waktunya Tata buat cari pengalaman baru, ditempat yang baru. Aku yakin 3 tahun lagi pas Tata balik, Tata pasti jadi pribadi yang jauh lebih baik dan keren lagi dari sekarang. Kalo Tata ngerasa kangen rumah, kangen Indonesia, kangen Jagakarsa, telfon aku sama El aja. Nanti kita akan up to date perkembangan Jagakarsa dan sekitarnya haha. Doain aku bisa nyusul Tata kesana, siapa tahu dapet jodoh bule. 

Tata baik baik disana ya, cari temen dan pengalaman baru yang banyak. Kalo ada problem, aku 24 jam stand by buat Tata. Jangan di pendem sendiri ya. Inget, Tata tuh keren, pinter, care, sopan, baik, jangan minder ya. Tata punya banyak kelebihan yang bisa dibanggain. Aku aja bangga jadi temennya Tata muehehe. 

Ya pokoknya selamat jalan, hati hati.                                                                                                          Sampai ketemu 3 tahun lagi. eh 2 deng kalo aku bisa nyusul. 

Noted: sengaja kasih mv jkt so long biar gimana gitu.


Sunday, March 1, 2020

The Winter

Hari ini umurku 24, dua tahun sudah ulang tahun ku lewati tanpa senyumnya.
Tak ada lagi yang rajin berteriak selamat ulang tahun saat tengah malam.
Saat tahun pertama, aku pikir suasana hatiku masih berduka.
Sehingga malam spesial itu berlalu begitu saja.
Tapi malam ini, rasanya sama saja.
Tidak ada yang berbeda, aku sendiri ditemani pikiranku.
Mengingatkan aku kembali pada rasa sepi saat akhirnya kau benar-benar pergi.
Hari dimana kamu akhirnya benar-benar menutup matamu untuk selamanya.

Hari pertama, suasana duka itu sudah melekat didalam darahku.
Dalam suasana duka itu, pikiranku rancu tidak tahu apakah ini nyata atau hanya mimpi.
Saudara, kerabat, dan teman datang mengunjungi.
Mengulurkan tangannya, mengucapkan bela sungkawa dan terkesan berusaha menguatkan.
Beberapa dari mereka menangis, entah merasa kehilangan atau kasian pada kami yang sedang kehilangan.
Suasana rumah ramai, terdengar lantunan ayat suci dari berbagai arah.
Tapi aku tetap merasa sepi.
Kamu masih disini, terbaring diatas kasur kayu berwarna coklat.
Rambut panjang ikalmu masih tergerai dengan indah.
Kamu tidak terlihat kaku, kamu hanya terlihat seperti tertidur sambil tersenyum.
Wajah cantikmu tidak ada yang berubah.
Kamu tetap adikku yang paling cantik.

Hari Kedua, suasana duka itu seperti mengawang dan semakin mengawang.
Aku terbangun dari tidur, dan mencari sosokmu yang selalu tidur disamping kiriku.
Untuk sesaat aku lupa, dan luka itu kembali memasuki rongga dadaku.
Rasanya menyakitkan, saat terbangun dan kamu tidak ada di sisi kiriku.
Aku berlari keluar, dan sosokmu kembali terlihat diatas kasur kayu coklat itu.
Kamu tetap terlihat seperti tertidur.
Aku menampar wajahku, berharap terbangun dari mimpi buruk ini.
Tapi sekeras apapun tamparanku, aku tidak pernah terbangun.
Sekali lagi aku sadar ini bukan mimpi.
Dan semakin terasa bukan mimpi, saat orang orang itu membalutmu dengan kain putih.
Mendandani wajahmu dengan "riasan" itu.
Hari terakhir aku memoleskan riasan di wajah cantikmu.
Lalu orang-orang itu mulai membawamu dengan keranda hijau.
Takbir bergema dari mulut mereka, mengiringi mereka yang membawamu ke tempat peristirahatan terakhir,
Azan dikumandangkan, orang-orang mengelilingi.
Nafasku hampir terhenti, saat mereka mulai menutupi badanmu dengan papan kayu.
Sampai akhirnya aku tidak bisa lagi melihatmu.
Dan hari itu, kita benar-benar dipisahkan.
Kami semua tahu, kamu sudah "pergi".
Dan kami berusaha bertahan dengan senyuman.
Lalu keramaian yang pertama dirasakan mulai menghilang.
Satu persatu saudara, kerabat, dan teman mulai kembali kerumahnya.
Menyisakan aku dan keluargaku dalam hening.
Didalam kehilangan dan duka itu, rasa sesak kembali berkuasa atas tubuhku.
Menyaksikan papa, mama, dan adikku menangis kehilanganmu membuatku semakin tidak bisa bernafas.

Hari ketiga, masih dalam suasana duka.
Aku diperintahkan untuk menyembunyikan semua fotomu dirumah.
Bukan karna kami tidak lagi mencintaimu atau ingin melupakanmu.
Kesehatan papa seperti memburuk saat kamu pergi.
Sehingga aku ditugaskan untuk menyembunyikan semua foto-fotomu.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa tidak bersyukur masih diberikan kesempatan untuk bernafas.
Mengapa Tuhan memberikan aku nafas, jika Tuhan mengambil sesuatu yang sangat berharga bagiku.
Yang kehadirannya sepenting oksigen bagiku.
Mengapa Tuhan mengambil sumber kekuatanku, kebahagiaanku, kehidupanku.
Rasanya seperti Tuhan mengambil sebagian dari tubuhku, dan menyuruhku untuk tetap hidup dengan sebagian tubuhku yang ia tinggalkan.
Aku berdoa, untuk bisa bertemu dengannya kembali.
Dan aku benar-benar kembali bertemu denganmu dalam mimpi.
Dalam mimpiku, kamu masih hidup, dan kamu baik baik saja.
Tuhan seperti mempermainkanku.
Mengambil ragamu dalam kenyataan, dan menghidupkanmu dalam mimpiku.
Tidurku mulai terganggu, aku mulai sering terbangun di pagi buta.
Tidak bisa makan, tidak bisa tidur, bahkan tidak jarang aku harus berjuang untuk bernafas.
Dokter menyaranku untuk pergi ke psikolog, dan psikolog menyaranku untuk pergi ke psikiater.
Tidak ada satupun dari mereka yang berhasil membuatku kembali.
Aku masih tidak ingin menerima kenyataan.

Hari keempat, suasana duka yang membuatku berulang kali ingin mati.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menyakiti tubuhku.
Dimulai dari meminum obat penahan rasa sakit.
Sampai berusaha untuk memukul, bahkan menyilet diriku.
Semua yang kulakukan, tidak ada yang berhasil membuatku merasakan sakit.
Aku ingin merasakan sakit yang lebih besar dari apa yang dirasakan oleh hatiku.
Setidaknya saat itu, aku berpikir cara itu berhasil.
Namun tidak ada satupun caraku yang berhasil membuatku merasakan sakit.

Aku sendirian.
Tidak ada tempat untuk mengadu.
Aku membenci tatapan kasian dari orang orang disekitarku.
Aku berusaha untuk kuat, walau rasanya ingin sekali untuk mati.
Tidak sedikit yang menertawakanku, atau justu mencelaku.
Dimulai dari kata lemah, sampai kafir ditunjukkan untukku.
Hanya karna aku merasa kesepian.
Hanya karna aku merasa belahan hatiku pergi.
Hanya karna aku merasa tidak lagi semangat untuk hidup.
Mereka tidak tahu, berapa banyak rencanaku yang terhenti saat kamu menghembuskan nafas terakhirmu.
Dunia seperti sepakat untuk menjatuhkanku.
Saat mereka mengambil bagian dalam diriku, aku masih berusaha tegar.
Karna aku tahu, ada kamu dirumah yang menungguku.
Lalu tiba-tiba semangatku, nafasku, direnggut.
Dan dunia tidak ingin memberikan kesempatan untukku berduka.
Tuhan terlihat samar bagiku.
Manusa terlihat menyeramkan untukku.
Rasanya aku ingin menyerah.

Aku tidak lagi berjuang untuk melawan dunia.
Aku berjuang untuk diriku setiap harinya agar bernafas.
Aku berjuang untuk diriku setiap harinya agar tidak melakukan hal-hal yang dapat menyakitiku.
Aku berjuang untuk diriku setiap harinya agar bisa bahagia.
Aku berjuang untuk diriku setiap harinya agar bisa menerima kenyataan.
Tanpa uluran tangan siapapun, tanpa genggaman tangan siapapun.

Dan karna aku pernah merasakannya.
Dan karna aku tahu bagaimana sulitnya.
Dan karna aku paham sesakit apa.
Aku berusaha untuk hadir disetiap luka sekitarku.
Berusaha menjadi penghibur, dan menutup lukanya.
Mengerti keadaan sekitarku, memaklumi keadaan sekitarku.
Walau kadang kadang rasanya sangat tidak menyenangkan untukku.
Walau kadang kadang rasanya menyakitkan

Dan entah sejak kapan, rasa sakit itu seperti sebuah candaan.
Tidak ada lagi hal didunia ini yang rasanya menandingi rasa sakitku saat kehilangamu.
Sehingga sesakit apapun aku saat ini.
Bahkan jika harus berbagi kebahagiaan dengan yang lain.
Asal mereka tidak merasakan rasa sakit yang dulu pernah aku rasakan saat kehilanganmu.
Aku bisa menahannya.
Aku pasti bisa menahannya.
Yang perlu aku lakukan hanya bersikap biasa.
Aku hanya perlu bernafas, meangkat daguku, menatap kedepan, dan berjalan.

Rasa sakit itu seperti salju bagiku.
Saat pertama datang, ia datang bertubi-tubi meninggalkan rasa dingin.
Hanya rasa dingin, dan beberapa butiran salju yang menempel pada hatiku.
Lalu, lama kelamaan ia bertumpuk.
Tidak hanya membekukan, tapi juga menutupi sebagian hatiku.
Dan karna aku sudah terbiasa dengan rasa dingin itu dihatiku.
Lama kelamaan aku seperti berteman baik, dan saat ia hadir aku tersenyum.
Walaupun aku tahu, ia akan meninggalkan banyak butiran salju pada hatiku.
Dan mungkin suatu saat akan membuat hatiku benar-benar berhenti karna dinginnya, saat aku sudah tidak bisa lagi mencari matahari.


Wednesday, January 29, 2020

06 Desember 2000

Aku rindu, tidak ada satu malam lepas dari wajahmu
Dulu berpergian terasa begitu mudah, ada kamu yang selalu merengek untuk ikut
Jam 12 malam adalah waktu terbaik untuk kita bertukar cerita
Bahkan untuk berdiri didepan kompor panas hanya untuk membuatkanmu sepiring makanan
Pasar menjadi surga bagiku, karna disana aku bisa berburu bahan makanan spesial untukmu
Baunya pasar menjadi bukan apa apa ketika aku mengingat ekspresimu ketika makan
Tidur pagi merupakan sebuah kewajiban karna aku harus memastikanmu tidur lebih awal
Kamu mungkin terlihat judes dan galak, padahal kapas saja tidak selembut hatimu
Senyummu sederhana, tapi ada kehangatan yang tidak akan tergantikan
Cahaya adalah kata yang tepat untukmu, karna kamu adalah penerang kami semua
Masa depan kami belum jelas, tapi kami tahu jalan yang akan kami tapakki
Aku, aku tahu jalan yang akan aku pilih
Didalam otakku yang mungil ini, terbayang aku sedang membangun sekolah untuk anak anak
Dan kamu adalah tenaga pertama yang aku butuhkan
Aku tidak tergiur bekerja diperusahaan, bagiku memiliki usaha kecil denganmu sudah melebihi kata cukup
Aku menuruti perkataanmu, jika bagimu pasanganku tidak baik dan kau tidak menyukainya akan ku lepaskan
Aku bahagia mengenalkanmu kepada lingkunganku walaupun mereka tidak yakin kita saudara kandung
Aku yang dulu sempat membenci keberadaanmu perlahan justru menjadikanmu prioritas hidupku
Lalu tuhan jahat
Setidaknya bagiku saat itu tuhan jahat
Tuhan ambil satu satunya manusia yang membuatku kuat dan bertahan
Bukan saja runtuh, duniaku hilang
Sebagian jiwaku hilang
Aku marah, tapi tidak tahu kepada siapa
Menangis saja tidak cukup sebagai ungkapanku atas kehilanganmu
Mati adalah kata yang berkali kali terbesit dikepalaku
Aku mau mati
Aku mau menyusulmu
Aku mau berada didekatmu
Lalu setelah kepergianmu hari terasa berat
Bernafas terasa sangat menyakitkan
Pintu didalam hidup dan diriku, aku tutup rapat dan sempurna
Tidak boleh ada yang tau aku seterpuruk ini
Karna marahku pada Tuhan, aku berniat meninggalkannya
Lalu hidupku semakin sengsara, duka seperti memelukku erat dengan senyuman
Dan kegelapan mulai menyelimuti kehidupanku, mengalir di dalam nadiku, berdenyut di dalam jantungku
Aku, duka, sengsara, dan kegelapan perlahan saling merangkul seperti teman baik
Jujur aku menyukainya dan itu sangat nyaman bagiku
Tapi realita tidak kalah jahat dengan Tuhan, ia tidak ingin aku bersahabat dengan mereka 
Ia ingin aku sadar, kembali
Ia berteriak padaku “ayo hidup lagi!!”
Tubuhku serasa ditarik kedua sisi, rasanya sakit sampai aku ingin merobek badanku menjadi dua
Bangun tidur kemudian menjadi aktifitas paling menyebalkan dalam keseharianku
Aku harus menentukan apakah hari ini aku akan menjadi orang yang bahagia?
Dan apakah aku hari ini harus berjuang melawan diriku lagi untuk bisa bernafas?
Dek, aku lelah 
Aku takut sekali mati, tapi hidup tanpamu rasanya seperti terbaring koma
Kadang muncul dalam pikiranku, kenapa harus tante kita yang kau jemput
Kenapa bukan aku?
Aku rindu, rasanya mau mati saking merindu

Thursday, November 21, 2019

The Sun

Pagi ini pikiranku rancu,
Mencoba mencari ingatan bagaimana kita bertemu.
Lucunya tingkah lakumu masih menjadi candu bagiku.
Ternyata ingatanku tentang mu masih sebaik itu.
Bagaimana dulu aku memandangmu.
Bagaimana dulu aku menilaimu.
Dan bagimana dulu aku mengumpulkan keberanian untuk mencintaimu.

Semua kilas balik tentangmu masih terasa menyenangkan.
Memberikan banyak kebahagiaan.
Mengajarkan sedikit kesempurnaan.
Tentu saja mencintaimu butuh pengorbanan.
Dan menyukaimu merupakan sebuah larangan.

Namun entah bagaimana, aku masih berani.
Padahal aku tahu, kedepannya perasaan ini akan mati.
Aku tidak bisa menyalahkan siapapun atas ini.
Bukan karna kamu manusia tidak berhati.
Hanya saja, saat itu perasaan yang aku miliki belum berarti.
Bahkan ketika pada akhirnya, kaupun pergi.

Dengan segala kegoisanku yang bodoh.
Yang aku lakukan hanya membuatmu semakin menjauh.
Menjauhnya dirimu, mampu membuat ku berhenti melangkah.
Sambil menontonmu dalam diam dan resah.
Aku akhirnya memutuskan untuk pergi dan pasrah.
Ukiran senyummu masih tersimpan dengan rapih.
Hanya saja dari awal memang cinta ini tidak pernah dizinkan untuk bergairah.

Tidak banyak yang berubah dari kita.
Aku tetap melanjutkan aktivitasku, dan kau masih terlihat bahagia.
Sampai tiba saatnya.
Perpisahaan yang sebenarnya.
Ruangan itu menjadi saksi bisu ketika aku berdoa.
Percayalah, doa adalah pengantar rindu yang paling tidak berdosa.

Tidak pernah sedikitpun terpikirkan, hari ini kita akan saling bertatapan.
Perasaan yang sempat hilangpun kembali datang.
Belajar dari kesalahan, kali ini aku bertekad mencintaimu dalam diam.
Hanya akan membuatmu nyaman dan tertawa.
Tidak lagi ada paksaan.
Aku memilih untuk menghindari perpisahan lainnya.

Bertemu denganmu selalu saja berdekatan dengan bulan November.
Tuhan seperti punya cara untuk mengajak kita bercanda.
Kemarin Tuhan buat aku menangis di tanggal yang sama.
Sekarang Tuhan buat aku tertawa bahagia di tanggal yang sama.
Apa memang dari dulu hidup sudah selucu itu?.
Atau aku yang dari dulu hidup tidak pernah melucu?.

Aku tidak lagi menggebu untuk untuk mendapatkanmu.
Bahkan kutanamkan pada diri ini untuk tidak lagi berangan bersamamu.
Bukan karna dirimu yang ku pandang rendah.
Justru karna pandanganku padamu tidak pernah berubah.
Dan aku cukup tahu diri siapa aku.
Sehingga impianku bukan lagi mendapatkanmu.
Melainkan menjadi seseorang yang sangat dan selalu berarti untukmu.
Selamanya.
Sampai di kehidupan berikutnya.

Tapi Tuhan baik.
Kemarin pagi Tuhan berikan aku bukti kasih.
Yang bahkan dulu tidak berani untuk aku imajinasikan.
Saat itu sekitar jam 4 pagi.
Dan kita masih asik bertukar cerita.
Yang kemudian berlanjut menjadi ajang kejujuran.
Tentang bagaimana kita, bagaimana perasaan kita.
Aku seperti remaja kembali, pipiku memerah dan kau tertawa mengetahuinya.

Jika saja aku tahu Tuhan akan berikan aku kesempatan untuk lebih dekat denganmu.
Aku akan jauh lebih sabar menghadapimu dari dulu.
Semoga disetiap detikmu kedepannya, terselipkan tawa dariku.
Selalu.




Saturday, March 9, 2019

Grendy & Lily

Dari Lily untuk Grendy

Dear Grendy

Denting piano itu masih terdengar, di susul suara lembutmu dari sebrang sana. Aku tersenyum, hanya dengan mengingat suaramu. Kamu adalah cinta yang jatuh hanya dengan suara. Cinta tersuci yang pernah aku rasakan untuk orang asing yang baru aku temukan. Cinta yang hadir bukan dengan tampilamu, tapi justru apa yang ada didalam hatimu. Waktu 4 jam berbicara denganmu, sudah mampu membuatku mengerti betapa aku akan merindukanmu dimasa depan nanti. Meski tahu, perbedaan itu begitu jauh dan sangat terasa. Cinta itu tetap bejalan. Dan aku tetap diam. Aku tidak mau salah langkah. Aku tidak mau menyakitimu, dan aku berniat menjadikan ini sebagai cinta diam-diam. Menjadi salah satu penggemar rahasiamu. Entah aku yang terlalu bodoh, atau kamu yang terlalu peka. Tetap saja kamu memahami, perasaan yang aku tutup rapat ini. Sampai tiba waktunya, kamu berkata "bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?". Demi Tuhan aku bahagia, perasaanku tidak pupus. Perasaanku, ia terbalas. Aku sangat bahagia. Jadi aku lupakan sejenak perbedaan kita. Aku genggam tanganmu, dan berusaha menguatkanmu. Mengatakan semuanya baik-baik saja, Tuhan pasti berikan jalan. Aku tamak Gren, aku sombong. Aku lupa, kamu juga punya Tuhan. Dan kamu adalah hamba Tuhan yang setia. Berbeda dengan aku. Lalu, akupun belajar darimu cara mencintai Tuhan. Aku mendekat padanya, membaca kitabnya, mendengar khotbah tentangnya, mendengarkan lantunan pujian hambanya untuknya. Aku merasa aku pulang, aku bertemu dengan Tuhan. Tuhan yang selama ini aku cari, bersamamu aku menemukannya. Ada banyak tumpukan rindu yang datang ketika aku merasakan kehadirannya. Aku menikmati itu, hingga tiba satu ketakutan. Gren, jika aku tidak bersamamu bagaimana aku menemukan Tuhan?. Sedangkan aku merasa kamu adalah uluran tangan Tuhan untukku?. Bagaimana jika kamu pergi, aku harus kemana mencari Tuhan?. Aku tidak mau kehilangan Tuhanku lagi. Kamu tahu Gren, ada berapa banyak syair yang kutlis tentang Tuhan semenjak bertemu kamu?. Gren, bagaimana aku bisa membenci seseorang yang membawaku pada Tuhan?. Bagaimana bisa aku melupakan kebaikan seseorang yang mengenalkanku pada Tuhan?. Dan bagaimana bisa aku menyakiti seseorang yang mengajarkan aku ajaran Tuhan?. Gren, rasa cintaku padamu sebagian besar didominasi dari bentuk terima kasihku. Dimana rasa terima kasih itu berubah jadi bencana. Aku mulai egois, ingin memilikimu. Dimulai dari mimpi-mimpi indah yang sering terjadi. Izinkan aku cerita sedikit. Aku bermimpi, berjalan di altar dengan gaun putih panjang. Tudung putih menghiasi kepalaku, aku tersenyum bahagia sambil berjalan kearah laki-laki didepanku. Kamu. Yang beberapa hari lalu menungguku didepan pintu, mengulurkan tangan dan mengajakku masuk. Dengan jas putih, kamu berbalik kearahku. Tersenyum, yang disusul dengan memuji betapa cantiknya aku hari itu. Dan pernyataan bahwa kamu menerimaku dalam senang maupun susah, sakit maupun sehat. Gren, mungkin buatmu itu sekedar mimpi. Namun untukku, itu adalah harapan untuk mimpiku yang pernah hilang. Dalam hati, aku mendoakan agar mimpi itu bisa terjadi. Lalu disusul dengan mimpi aku berdiri disebrangmu, memangku anak kecil sambil mendengarkan khotbahmu. Aku berjalan keluar, kearah taman yang disusul olehmu. Kamu mengambil anak itu dari pangkuanku, kamu gendong dia tinggi dan kamu kecup jidatnya. Di saat itulah aku merasa, Tuhan sangat baik padaku. Benar benar baik. Bagaimana Tuhan bisa, pertemukan wanita sekotor aku dengan kamu. Dan menjadikan kamu ksatria untuk menuntun ku kembali padanya. Aku semakin tamak, sampai tiba rasa ingin memilikimu yang tidak sehat. Sering curiga dan takut kamu akan pergi. Karna dalam fikiranku. jika kamu pergi maka Tuhan juga akan pergi. Dan aku tidak mau itu terjadi. Aku juga tidak mau mimpiku menjadi kenyataan bagimu, tapi bukan dengan aku. Aku semakin banyak mau, aku rusak, aku lupa diri. Sampai aku merasa ini tidak benar, aku harus pergi darimu. Demi kebaikanmu, meskipun itu rasanya seperti menusukan seribu pisau kedadaku. Meninggalkanmu, adalah kesulitan yang tidak pernah aku duga. Berusaha meninggalkanmu, justru membuatku semakin mencintaimu. Membuatku semakin kacau, lupa diri. Gren, aku tidak bisa menjamin masa depanmu bersamaku. Tapi aku bisa menjamin bahwa perasaan cintaku adalah sesuatu yang nantinya akan kamu syukuri. Dan kelak, saat kamu sudah berumah tangga. Aku akan menjadi bagian dari cerita yang nantinya akan kamu dongengkan pada anak dan cucumu. Gren, bertemu denganmu adalah suatu anugrah Tuhan yang tidak akan pernah aku dustakan. Melepaskanmu dari perasaan ingin memiliki adalah bentuk pengorbanan cintaku untuk melihatmu bahagia dan berkembang sebagai manusia. Tertawa bersamamu adalah kebahagiaan untukku. Masa lalumu, adalah duka yang ingin aku pulihkan agar kamu melihatnya sebagai pelajaran. Dan mendoakanmu di setiap waktu, adalah satu satunya cara untuk mencintaimu tanpa menyakitimu lagi. Grendy, lewat tulisan ini aku ingin kamu tahu. Ada banyak terima kasih yang tidak bisa aku sampaikan secara langsung. Ada rasa takut yang mungkin kamu tidak paham. Suatu hari nanti, mungkin disaat Tuhan berkehendak. Kita bisa disatukan didalam ikatannya. Sampai saat itu tiba, izikan aku berada disampingmu sebagai sahabat. Atau entah sebagai apa, asal bisa melihatmu tertawa. Itu jauh dari cukup.....


Xoxo

T. Lily

Thursday, January 17, 2019

Prodak - Prodak Animal Free, Cruelty Free, & Halal Yang Rutin Dipakai.

Purlooww

Setelah ngebuang-buangin make up animal testing, gue mulai cari cari refrensi prodak pengganti mereka. Dan prodak prodak ini udah gue pake di botol ke 3 atau lebih.  Semoga refrensinya membantu ya!!

- Rambut :
Shampoo Sari ayu hijab / Natur/Natur Azalea, Conditioner Sari Ayu hijab, Hair Mist Sari Ayu Hijab, Hair Tonic Sari ayu Hijab.
Untuk shampoonya, sebenernya gue sempet ga terlalu berharap sih. Cuma, pas pertama kali pake dikepala itu ada sensai mintnya gitu. Dan itu bener bener bantu supaya rambutnya ga rontok atau berketombe. Kekurangannya, kalo kita cuma pake shampoo ini gapake conditionernya berasa banget kaku dan kasarnya rambut kita. Untuk hair mistnya, wanginya enak banget. Berasa fresh gitu lah pokoknya abis pake. Sedangkan untuk hair tonic gue ga begitu berasa banyak efeknya sih, selain bikin lebih lembut dan ga ngembang aja.

- Alis :
Silky girl. Untuk alis, gue cobain Silky Girl yang di puter gitu. Untuk warna hitamnya, pakenya hati hati ya. Soalnya warnanya pekat, untuk yang ga suka alis bold pakenya pelan pelan aja. Jangan diteken, dan cukup bikin frame alisnya aja. Untuk isi warnanya, tinggal kalian sisir pelan pelan pake spoolie yang ada dibelakangnya. Nah untuk yang gamau terlalu bold, bisa coba pinsil alisnya Purbasari. Warna hitamnya ga terlalu pekat, tapi masih bisa di build up pelan pelan kalo kalian mau bikin alisnya bold. Tapi gue pribadi lebih suka Purbasari, karna warnanya yang menurut gue sangat aman. Jadi pakenya ga perlu sehati-hati saat pake Silkygirl.

- Eyeshadow :
Untuk eyeshadow, ada banyak banget pilihan eyeshadow yang bagus. Mulai dari Inez, La tulip, Make Over, dsb. Tergantung kebutuhan kalian aja. Gue pribadi ga terlalu suka pake eyeshadow. Sejauh ini eyshadow yang gue pake masih seputar make over sama emina karna warnanya cocok sama kulit gue.

- Maskara :
Ada 2 maskara yang selalu gue pake, Absolute New York Lash Pop sama Wardah EyeXpert. Kedua duanya punya kelebihan sama kekurangan masing-masing. ANY lebih membuat bulu mata gue panjang dan lentik. Tapi sayangnya dia ga waterproof, jadi kalo kalian wudhu atau nangis pasti auto jadi kuntilanak. Untuk Wardah, dia cukup melentikan tapi ga terlalu memanjangan bulu mata gue yang emang memprihatinkan ini. Tapi dia waterproof, dan enak banget gusti dipakenya. Untuk sehari hari gue lebih suka pake ANY sih karna bersihinnya gampang, walau resiko bikin gue jadi kuntilanaknya gede. Untuk acara penting, biasanya gue pake double. ANY dulu terus campur Wardah, alhasil bulu mata gue tidak lagi mengenaskan. Cukup cetar membahana dengan maskara seadanya.

Blush on :
Buat blush on, yang saat ini gue punya cuma Emina Cheeklit yang bitter sweet. Untuk tekstur dan warna menurut gue cukup oke. Gue rasa, tanpa gue jelasin secara detail kalian juga pasti udah sering baca reviewnya. Menurut gue blush on ini termasuk bagus banget mengingat harganya yang ga nyampe 50 ribu. Gue suka warnanya yang lebih kearah peach dari pada merah atau pink. Karna pipi gue sebenernya udah cukup merah tanpa blush on. Dan pake blush on warna pink atau merah malah akan bikin efek pipi gue digampar. Untungnya, setiap gue pake blush on ini. Gue ngerasa warna pipi gue lebih sedikit manusiawi.

Alas Bedak :
Untuk alas bedak, gue yakin kalian juga punya item favorite sendiri. Sejauh ini alas bedak yang gue pake cuma Purbasari Foundation sama Cushion Mizzu yang Glam Rock. Kedua duanya ga ada masalah, sangat oke. Cuma kalo kalian anak coverage banget, mungkin bisa pake Make Over ya. Karna Make Over coveragenya lebih bagus. Purbasari sama Mizzu ini hasilnya sama sama dewy, dan gue suka banget sama finishnya. Meskipun coverage mereka medium, tapi oke lah. Karna kebetulan gue ga terlalu suka yang dempul gitu.


Countur :
Gue pake Beauty Treats yang trio itu loh. Ada countur, highlight, sama bronzer di satu palletenya. Cucok meong sis, harganya juga murah loh. Tapi emang untuk kualitas belum yang waw banget, tapi buat sehari hari masih oke ko.

Lipstick :
Nah untuk lipstick pasti kalian punya banyak banget rekomendasi, gue sendiri ga bisa sebutin saking banyaknya hahaha.

Lipbalm :
Tender carenya Oriflame masih jadi kecintaan gue untuk gantiin Vaseline. Fungsi dan teksturnya bener bener mirip loh. Silahkan di coba ya.




Sunday, July 16, 2017

Animal Free, Animal Cruelty Free, Vegan, Halal in Make Up

I broke up with my make up

Seriusan putus sama make up? hahaha engga lah. Make up is part of me, meskipun sempet di anggurin selama beberapa bulan wks. So banget ya gue, kaya ada yang baca blog gue aja wkwk. Okay, jadi beberapa hari yang lalu gue sempet asik beryoutubean ria. Buka ini itu, saking gabutnya. Nah, disaat lagi seru serunya ngeyoutube. Gue nemu salah satu Beauty Vlogger asal indonesia yang mengkampanyekan animal free. Disitu, dia ngomong panjang lebar mengenai apa sih animal free itu?. Dan produk apa aja yang testing on animals, dan yang not tested on animals.

Sebelumnya, Animal Free, Animal Cruelty Free, Vegan, dan Halal itu memiliki pengertian yang berbeda. Animal free artinya bahan bahan dalam kandungan produk tersebut bebas dari hewan, kaya  Asam Alfa Hidroksi a.k.a AHA, plasenta hewan (iya plasenta, kalian ga salah baca), atau carmine (yang masih diperdebatkan halal atau haram). Tapi Animal free, belum tentu tidak melakukan uji coba pada hewan. 

Animal Cruelty Free, memiliki pengertian bahwa tidak dilakukannya testing atau uji coba produk pada hewan. Jadi produk ini bebas dari uji coba pada hewan, tapi ini ga menjamin bahwa mereka Animal free. Seperti kosmetik KatvonD, KatvonD merupakan salah satu produk make up yang Animal Cruelty Free, tetapi di beberapa produknya masih menggunakan bahan carmine.

Nah sedangkan Vegan ini bener bener bebas dari segala sesuatu yang berbau hewani, tidak menggunakan bahan bahan hewani bahkan madupun engga. ini paling tegas diantara ketiganya, kalo cowo dia mirip oppa oppa tegas nan ganteng di drakor.

Terakhir Halal, you know lah maksudnya ya. Gue rasanya kalo liat make up ada label halal dan no testing on animal rasanya mau nangis bahagia. Padahal liat logo Halalnya aja gue udah percaya sih. 

Oke, setelah gue ngejelasin secara singkat mengenai pengertian pengertian diatas. Gue akan ngebahas, make up apa ajasih yang Animal Free, Animal Cruelty Free, Vegan, dan Halal. Sebelumnya gue sempet tarik nafas, saat liat make up indo itu ternyata selain murah, badai, mereka juga kece loh. Sari Ayu misalnya, dia ada logo halal dan No Animal testing. Gimana gue ga terharu coba, wks. Dan sebelumnya gue peringatkan kalian harus siap siap tarik nafas, sebelum patah hati berkepanjangan.

Perusahaan dengan tanda * merupakan Animal / Cruelty Free tetapi Parent Company mereka melakukan Animal Testing

Animal Free :
Nyx, Urban Decay, Mineral Botanica, Too Faced *, The Body Shop*, Sari Ayu, Wardah, Make Over, dsb.

Animal Cruelty Free :
Nyx, Urban Decay, Mineral Botanica, Too Faced*, The Body Shop*, Sari Ayu, Wardah, Make Over, Purbasari, Mustika Ratu, Innisfree, OCC, The Balm, Becca, Tarte, Hourglass, Wet n Wild, ABH, Milani, Elf Cosmetics, Jeffre Star, Hada Labo, dsb.

Vegan :
Pacifica, Afterglow, Wet n Wild, Two Faced, Tarte, Nyx, Elf, Urban Decay, Mineral Botanica, dsb. 

Halal :
Wardah, Viva, Sari Ayu, Mustika Ratu, Purbasari, Red A, Make over, Inez, LT Pro, La Tulipe, Pac, Caring Colour, Zoya cosmetics, Lux, dsb.

Perhatikan logo ini ketika kalian membeli sebuah produk, produk dengan label dibawah ini merupakan Animal /Curelty Free, Vegan, atau Halal.




Siap siap patah hati sis....


ANIMAL TESTING :
Maybelline, Revlon, Mac, Channel, YSL, Estee Lauder, Benefit, Covergirl, Tresemme, Clinique, Max Factor, Olay, Shiseido, Dove, Vaseline, Shu Uemura, SK II, L'Oreal, Rimmel, Dior, Lancome, Laneigh, Pantene, Garnier, Ponds, NARS!! (IYA NARS GA SALAH BACA KO). 

Patah hati ga sih kalian sama nars? i mean. Setelah sekian tahun bersama, bisa bisanya bohong mengenai hal sakral yang selama ini jadi daya tarik sendiri untuk NARS. Nars bilang meskipun Parent Company mereka a.k.a Shiseido melakukan uji coba pada hewan, mereka ga akan ikutan. Tapi kita ditipu, pada akhirnya Nars pun goyah, dan melakukan uji coba pada hewan supaya mereka bisa masuk ke pasar China. Nah perlu kalian tahu China dan Brazil adalah dua negara yang memperbolehkan uji coba pada hewan. Bahkan di China, perusahaan kosmetik yang ingin membuka gerai disana harus melakukan animal testing pada setiap produknya untuk mendapatkan izin dari kepemerintahan China. Jika mereka menolak, maka perusahaan tersebut ga akan mampu menembus pasar China. Ini juga yang mungkin jadi salah satu alasan Nars. Sebaliknya KatvonD justru menolak memperjual belikan produknya didalam negara yang melakukan animal testing. Terus gue cuma bisa berdoa dalam hati, semoga kebijakan ini bisa punah di dua negara tersebut. Dan dinegara lain yang melegalkan kebijakan untuk animal testing.

Kalian pasti mulai berfikir, hem jadi intinya kenapa kalo animal testing? toh ga ada efek jangka panjangnya ke kita. Itu kan di lakukan untuk kesehatan dan keamanan kita juga.

Oke, 
1. Sorry to say, tapi pikiran kalian sempit banget.
2. Kalian pernah liat proses animal testing itu ga?.
3. Animal testing memang ga ada efek jangka panjang ke kita, tapi dengan kita membeli prodak mereka, sama aja kita meng'iya'kan atau mendukung perusahaan tersebut untuk melakukan animal testing. Setiap helaian maskara yang kalian pakai, kalian itu mengorbankan belasan mungkin puluhan hewan. Gini, misalnya Perusahaan A mau membuat mascara. Sebelum dijual, bahan bahan pada mascara itu diberikan ke hewan dalam bentuk cairan. Dan mereka akan tunggu, apakah ada reaksi dari hewan tersebut atau engga. Misalnya ada reaksi dari hewan tersebut, mereka akan tunggu berapa lama reaksi tersebut. Hewan hewan itu dibiarkan kesakitan setengah mati, lalu di bunuh. Bahkan ga jarang mereka pada akhirnya mati saking ga kuatnya. Apa setelah mati penderitaan mereka selesai? oh no, i wish. Tubuh mereka akan dibelah, untuk dilihat bahan apa yang menyebabkan reaksi. Andai mereka hidup, mereka akan ngalamin hal itu lagi sampe mereka mati atau perusahaan itu tutup. Dan setelah mereka mati, mereka akan diganti dengan hewan lain. Yang nasipnya ga jauh dari temen temennya dulu. Gue yakin, setiap agama pasti melarang kekerasan ya. Entah itu ke manusia atau hewan. Dan jujur, gue ga bisa ngebayangin sih seandainya yang dijadikan hewan percobaan itu adalah kucing gue. Hewan yang sering dijadikan animal testing bukan cuma hewan hewan kecil seperti tikus, tapi ada kelinci, kucing, monyet, babi, anjing. Berikut ada beberapa foto yang gue ambil dari internet supaya kalian tahu, seperti apa animal testing itu.



See? its not worth it, hanya untuk bulu mata kalian terlihat lentik mereka harus ngerasain buta, hanya untuk rambut kalian terlihat lebih mudah diatur mereka harus ngerasain luka di badan mereka, hanya untuk kulit kalian ga kering mereka harus ngerasain kulit mereka terkelupas dan ga jarang sampe memperlihatan daging terdalam mereka. Yang sebenernya, kalian gapake pun ga apa apa. Ga akan bikin kalian kehilangan nyawa juga. Definisi cantik itu, bukan dari make up apa yang kita pakai. Percuma pakai make up tebel, make up mahal, terlihat cantik, kalo kalian ga bisa perduli sama lingkungan sekitar kalian. Just because you dont feel it, doesnt mean you denied it. Kalian tahu, yang dialamin hewan-hewan itu sakit, itu ga manusiawi. So stop it. Caranya gampang ko, tinggal gausah beli apalagi pake make up yang animal testing. Dan pindah ke make up yang Cruelty Free, trust me itu ngebantu hewan hewan diluar sana. You save a million animals, when you stop using their product. Apa kalian ga takut hewan-hewan itu punah?. Anggap untuk 1 produk dalam satu perusahan dibutuhkan 10 kali percobaan. Kalo ada 10 perusahaan yang meluncurkan satu prodak baru, itu berarti ada 100 hewan yang mati. Kalo dalam setahun perusahaan itu memiliki 5 produk baru, berarti dalam setahun ada 500 hewan yang mati. Dan itu baru 10 perusahaan, sedangkan diluar sana ada banyak banget perusahaan yang melakukan animal testing. Dan ga jarang mereka ngeluarin produk baru yang ga cuma satu. Contoh, meibelin (iya yang sponsor acara model model itu) dalam setahun mereka launching lipstick, bedak, foundation, mascara, eyeshadow, pinsil alis, dan entah apa lagi itu. Satu perusahaan itu aja bisa meembunuh 60 hewan. Dengan angka yang segitu besar, ga menutup kemungkinan kalo nantinya hewan hewan tersebut akan punah loh. Kalo hewan-hewan itu punah, ekosistem kita sedikit banyak akan terganggu. Ujung-ujungnya kita juga yang rugi.

Belajarlah untuk jadi manusia yang lebih bijaksana, dan mau menerima dan memikirkan keadaan sekitar. Jangan jadikan alasan "Ini bagus buat kulit gue, ini bagus buat muka gue" untuk kalian menggunakan produk produk animal testing. I know, selain make up ada banyak ko animal testing lainnya. Kenapa cuma fokus ke make up?. Nah, justru karna banyak setidaknya kita coba kurangin lah. Dimulai dari yang paling gampang, dan ga akan ngebuat kalian sekarat juga yaitu make up. Banyak ko brand bagus yang ga melakukan animal testing dan aman aman aja ketika dipakai. Banyak metode lain untuk menguji coba sebuah produk, but animals its not a options. Have a great life!.





Sunday, October 4, 2015

I'am Not Perfect, But Someday I Will.

Wangi dari kaldu oden yang kupesan membuyarkan lamunanku pada sekumpulan remaja yang sedang asyik berbicara bersama teman temannya. Wajah dari salah satu pemuda itu mirip dengan Nyle kontestan America Next Top Model. Aku tidak bisa dengan jelas mendengarkan apa yang tepatnya merea sedang bicarakan, karna rumah makan ini sangat ramai dijam makan siang seperti ini. Entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku ingin mengenal pemuda itu lebih jauh. Tenang, aku tidak akan merayunya jika itu apa yang kalian fikirkan. Maksudku, kalian tahu kepada siapa hatiku sudah terikat. Dan kalian tahu pasti aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, dan bukan orang yang mudah untuk menggantikan kehadiran seseorang dengan orang baru. Bahkan didalam kenyataan bahwa mungkin kita tidak akan bisa bersama, bukan mencoba untuk berkata klise. Tapi memang kadang cinta tidak selamanya harus bersama, lagipula siapa yang bisa menjamin kedepannya kita tidak bisa bersama. Selagi kita masih percaya bahwa jodoh kita ada di tangan Tuhan, tidak ada salahnya berdoa dan berharap bukan?. Oke, balik ke topik. Aku teringat sesuatu, oh iya aku belum menyelesaikan tugas kuisonerku. Aku bisa memintanya membantuku untuk mengisi kuisoner ini sebagai tamengku untuk berkenalan dengannya. Namun, saat melihat kursi disampingku kosong membuatku berfikir dua kali mengenai keputusan ini. Aku agak menyesal hari ini pergi sendiri dengan gegabah. Hari ini entah kenapa aku ingin sekali pergi kebogor, karna laki laki yang menjanjikan hari ini akan mengajakku kebogor sudah hilang maka terpaksa aku pergi sendiri. Aku pergi ditemani supir teman papa, dan sayangnya supir tersebut menolak untuk makan bersamaku disini. Jika aku pergi ke tempat Nyle ala indonesia itu, bisa dipastikan mejaku akan menjadi sasaran hangat bagi mereka yang sedari tadi menuggu meja kosong. Akupun belum menyelesaikan makananku, dan aku tidak sudi jika harus mencari meja baru. Akhirnya kuputuskan untuk memakan sampai habis makananku, baru aku akan meminta bantuannya. Dalam 20 menit aku berhasil menghabiskan seluruh makanan yang kupesan, sepertinya udara bogor memang merayuku untuk makan banyak. Setelah selesai, aku berjalan pelan kearah meja Nyle ala indonesia itu. Mejanya tepat didepanku, hanya terbentang satu meja. Aku datang dan melemparkan senyuman manis "Hai, maaf boleh minta waktunya sebentar?". Dia dan teman temannya hanya menggangguk tanda setuju. Akupun mulai menjelaskan maksud dan tujuanku meminta bantuan mereka untuk mengisi kuisonerku. Mereka tidak banyak bicara, hanya sesekali tersenyum dan menunjuk nomer yang mereka rasa kurang mengerti. Aku akan menjelaskan maksud pertanyaan tersebut sampai akhirnya mereka tersenyum dan membentuk huruf "o" dengan telunjuk dan ibu jari. Nyle ala indonesia itu ternyata selesai lebih dulu. Ia menepuk bangku disebelahnya mempersilahkan aku duduk, dan aku mulai menyadari sesuatu. Namun aku diam, menunggu mereka akan "memberikan" kepastian kepadaku. "Makasih ya, oh iya namanya siapa?". Dia menjawab dengan bahasa tangan, oke ternyata dugaanku benar. Mereka semua bisu. Jika kalian tidak memperhatikannya dengan teliti, kalian tidak akan menduga bahwa mereka sebenarnya bisu. Mereka terlihat normal, aku masih ingat betapa mereka terlihat riang saat menyambut teman teman mereka yang satu persatu berdatangan. Aku pun mulai mengenal mereka satu persatu. Mereka tidak malu, mereka tidak canggung. Hebat sekali gumamku dalam hati. Meskipun mereka bisu, namun tidak menghambat pengetahuan mereka sama sekali termaksud soal fashion. Salah satu perempuan berambut bob berkata padaku bahwa ia sangat mencintai fashion. Dapat terlihat memang dari cara ia memnggunakan pakaian. Dengan tubuhnya yang proposional, ia terlihat begitu menawan dengan dandanan kasualnya yang memberikan kesan tomboy sedikit namun tidak menghilangkan tingkat feminimnya. Ia menggunakan kaos putih, yang dipadukan dengan celana jeans belel dan lehernya dihiasi scraf bermotif bunga pink dengan warna dasar hitam. Rambut bob lurusnya digerai. Hidung mancungnya terlihat semakin menyempurnakan penampilannya saat itu. Nyle ala indonesia itu mengatakan bahwa mereka teman dekat sejak sma, sekarang mereka sedang berlibur dari aktifitas mereka sehari hari. Beberapa diantara mereka memilih untuk melanjutkan ke tingkat perkuliahan namun beberapa memilih untuk bekerja. Lucu sekali, dalam waktu kurang dari 20 menit aku sudah merasa menjadi bagian dari mereka. Mereka menertawakan aku yang berkali kali salah dalam mengartikan bahasa tangan mereka. Padahal, aku sudah takut mereka akan tersinggung. Berada disekitar mereka, aku merasa sama sekali tidak terintimidasi. Mereka begitu terbuka, begitu menyukai teman baru. Andai aku bisa menetap disini, dan menjadi bagian dari mereka. Aku melirik jam, dan suka tidak suka harus pergi. Aku berpamitan pada mereka, dan mengucapkan terima kasih sekali lagi untuk pelajaran berharganya hari ini. Mereka menuliskan pesan untukku saat aku lekas berjalan pergi meninggalkan mereka yang isinya "Dunia boleh meremehkan apa yang kamu punya sekarang, dan siapa kamu hari ini. Tapi kamu dan Tuhanlah yang paling tahu seberapa besar potensimu. Berjuang ya, kami yakin kamu bisa jadi seorang psikolog yang hebat". Aku menggenggam kertas tersebut, dan menatap mereka bergantian sambil tersenyum. Aku paham, terkadang Tuhan memang mempertemukan kita dengan seseorang yang tidak pernah kita duga agar kita bisa mengambil pelajaran dari mereka. Entah pembicaraan dengan mereka yang bisa kita jadikan pelajaran, atau perbuatan mereka. Jika saat ini, Tuhan sedang mempertemukan kamu dengan seorang bajingan ataupun seorang berengsek, percayalah Tuhan dengan ingin memberikan pelajaran untukmu lewat mereka. Kadang, kita harus merasakan disakiti oleh seorang bajingan atau berengsek untuk menghidari kita menjadi salah satu bagian dari mereka. Dan kadang, kita dipertemukan dengan malaikat tak bersuara agar kita bisa menghargai betapa mahalnya suara kita, diri kita. Jika mereka yang kalian anggap tidak sempurna karna tidak memiliki suara bisa membela dirinya dan tidak membiarkan dunia membelah mereka dengan kehidupan normal kenapa kita yang katanya sempurna tidak mau membela diri sendiri dan malah membelah diri dengan kehidupan?. Sampai tulisan ini dibuat, aku masih saja memikirkan pertemuan dengan mereka tadi. Banyak yang ingin kuceritakan, namun sepertinya aku lebih memilih untuk termenung dan tersenyum mengingat perkenalan singkat yang sangat menyegarkan otakku tadi. Hahaha.

Wednesday, September 30, 2015

Orang ketiga

Orang Ketiga
Kekuatan cinta tidak akan sebanding dengan kekuatan harapan

Prolog
Ada ketakutan terbesar yang belum selesai dan sepertinya tidak akan pernah selesai. Aku tidak ingin kehilanganmu, namun di satu sisi aku tidak bisa membiarkan seseorang terluka atas egoku. Tapi, bukannya sifat dasar manusia itu memang egois?. Lalu kenapa aku tidak boleh? Toh bukan aku juga yang ingin memulai semua ini. Aku hanya meminta apa yang seharusnya aku dapatkan. Kenapa malah jadi seperti ini?. 

****
Percayalah, menunggu adalah sesuatu yang paling tidak menyenangkan. Bahkan jika itu terlihat sangat kecil dan sepele. Seperti sekarang ini, aku hanya mampu diam menatap layar handphoneku, berharap dia membalas pesanku. Nihil, sudah setengah jam aku menunggu dan tidak ada balasan. 
Kadang, aku ingin membencinya, karna datang dan pergi semaunya. Terkadang terlihat seperti mencintaiku, namun seketika pergi begitu saja. Sudah berapa kali hubungan kami pasang surut, ada kalanya kami bertengkar dan memutuskan untuk berpisah namun salah satu diantara kami pasti akhirnya melunak dan kami kembali menjalin hubungan seperti tidak ada yang salah. 
Mungkin, sudah sekitar setengah tahun aku mengenalnya. Memang kami masih termaksud baru kenal. Akupun bahkan belum tahu dimana tempat tinggalnya, tapi itu bukan masalah bagiku. Aku memang keras, saat sudah menginginkan sesuatu aku tidak akan berpaling pada yang lain. Seperti halnya ketika aku sudah menyukai seseorang, aku hanya akan terus menatapnya. 
Entah sudah berapa kali hubungan kami pasang surut dalam waktu setengah tahun ini. Mulai dengan dia ketahuan sudah memiliki pacar, lalu dia yang menjauh karna risih dengan pertanyaan-pertanyaan yang ku ajukan, sampai akhirnya aku yang memutuskannya. Ya meskipun pada ujungnya kami tetap kembali. Iya, aku selalu kembali padanya dengan status yang sama. Status yang tidak jelas siapa aku untuknya. Teman, pacar, atau mungkin lebih tepatnya selir hatinya.
Kalian pasti berfikir, laki-laki seperti apa hingga mampu membuatku jatuh terduduk dihadapannya dan terkesan memujanya. Jawabanku, dia adalah laki-laki yang sangat biasa saja nyaris sangat normal. Tapi ke normalannya lah yang pada akhirnya mampu mengetuk hatiku untuk mempersilahkannya masuk. Aku suka senyumnya, tapi aku sangat membenci kala ia memanggilku dengan nama asliku. Aku ingin berbeda, aku ingin ia memiliki panggilan sayang untukku, seperti aku yang memanggilnya “mas”. 
Tapi aku tidak bisa menuntut apa apa padanya, meskipun hubungan kita tidak jelas seperti apa tapi aku bahagia. Sesimple itu, bukan bermaksud naif atau apa. Aku hanya tidak ingin munafik. Aku mencintainya, sudah pasti aku ingin bersamanya. Bersamanya bukan berarti aku harus memilikinya, karna ternyata aku tidak kuat juga untuk menyingkirkan kekasihnya. Kadang, saat temanku bercerita mengenai kasus perselingkuhan yang terjadi pada orang terdekat mereka aku hanya bisa berpura pura simpati. Seakan akan aku turut serta menyalahkan perempuan yang mau dijadikan selingkuhan itu. Tanpa pernah mereka tahu, hatiku dan otakku berteriak menyerukan bahwa aku juga selingkuhan, dan tidak sepantasnya aku bersikap seperti itu.
Biasanya setelah pembicaraan itu selesai dan mereka pergi, aku akan mencari tempat sepi untuk menangis. Apa memang jalanku seperti ini?. Apa aku memang pantasnya jadi seorang selingkuhan?. Apa aku tidak bisa mendapatkan apa yang teman sebayaku dapatkan. Aku pernah mencoba menjalin hubungan dengan seorang anak direktur, yang seketika aku putuskan begitu saja saat mengetahui bahwa masku itu sakit. Aku yang mendapat kabar tersebut langung panik, dan mematikan telfon dari pacarku tersebut. Dan mencoba untuk menelfon masku itu, tapi jawabannya? aku hanya didiamkan. 
Dan disitu aku akhirnya berfikir, bahwa ini salah. Aku tidak boleh membiarkan seseorang masuk kedalam hatiku jika aku belum siap. Akhirnya aku memilih untuk memutuskannya. Aku kehilangan laki laki sebaik itu hanya karna aku mencintai masku yang sudah memiliki pujaan hatinya sendiri. Iya, aku memang menyedihkan. 
Hari ini, hari ulang tahunnya. Meskipun aku sudah memberikan kejutan untuk dia 2 hari yang lalu, aku ingin memberikan kejutan lain lagi untuknya. Aku menyiapkan beberapa persiapan, dia pasti tidak akan menduganya. Handphoneku berbunyi, menandakan sebuah pesan darinya. Akupun menjemputnya yang hari itu ku tantang untuk mengikuti kelasku. Dia datang bersama seorang temannya. Duduk persis dibelakangku. Semua berjalan sesuai rencana, dia tidak curiga. 
Aku berniat untuk memberikannya kejutan di tower hari itu, setelah kelas. Alasan yang aku utarakan padanya adalah aku ingin mengerjakan tugas. Padahal, aku menyiapkan kejutan kecil untuknya. Aku membuatkannya sebuah kue kecil berbentuk wajah panda, hewan imut yang selalu kusamakan dengannya. Aku bersama temanku menunggunya disana, kalian tidak akan pernah tahu betapa bahagianya aku saat itu. Senyumku melebar tinggi dihari itu, tanpa beban hanya ada kebahagiaan. 
Aku menunggunya selama 2 jam, berkali kali aku mencoba menghubunginya namun tidak ada balasan. Aku mencoba menelfonnya, namun nomernya selalu berada di luar jangkauan. Senyum yang dari tadi aku kembangkan berubah menjadi kekawatiran, kemana masku?. Akupun memutuskan untuk membuang kue tersebut, mungkin ini tidak penting lagi baginya. Namun, aku tidak mampu membuang kotak kecil bersampul ditangan kiriku. Hadiah ini masih bisa aku berikan besok, gumamku dalam hati.
Aku mencoba mencarinya kekantin, berharap menemukan sosoknya. Nihil, akhirnya aku melangkahkan kakiku ke Lab Psikologi sekaligus mengantar teman temanku yang ingin kelas disana. Tepat pukul jam 3, aku memiliki keinginan yang kuat untuk kembali kekantin. Seakan akan aku akan melihat sesuatu yang besar disana. Keinginanku sangat kuat, aku memohon pada salah satu temanku untuk menemaniku.   
Kalian tahu apa yang aku lihat? aku melihat sosoknya berjalan ke arah kantin didekat pintu keluar, ia membeli sebotol air mineral. Aku mengikutinya dari belakang sambil tersenyum karna kembali menemukan sosoknya. Tapi senyumku menghilang, saat ia memberikan botol itu pada seorang perempuan berkemeja putih disampingnya. Iya, perempuan itu kekasihnya, bukan seperti aku tapi kekasih sungguhannya. 
Dalam waktu sepersekian detik, aku dan kekasihya sempat saling menatap. Tatapan matanya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan sampai saat ini. Aku paham, dia menghilang karna masku itu sedang bersama kekasihnya. Seperti pada umumnya, yang kedua akan selalu ditinggalkan saat yang pertama tiba. Karna pada dasarnya, aku hanya pelengkap kebahagiaannya bukan sarana kebahagiaannya. 
Aku tahu, jika aku menampakan sosok kecewaku pada temanku ia pasti akan langsung sadar bahwa perempuan kemeja putih itu adalah kekasih masku. Akupun pura pura tertawa, pura pura bernyanyi tidak jelas seperti biasanya. Ia keluar dari bilik kamar mandi sambil memelukku, sial umpatku dalam hati. Ternyata temanku ini benar benar peka. Ia paham apa yang aku lihat. Aku hanya memeluk dan tersenyum simpul menandakan aku tidak apa apa. 
Aku dan temanku memutuskan untuk pergi dari sana secepatnya, saat temanku akhirnya memulai kelasnya aku menangis dijembatan. Aku tidak tahu akan sesakit itu melihat mereka bersama. Aku menangis seperti orang bodoh selama sejam di jembatan, jam 4 tepat aku memutuskan untuk pulang. Sialnya, aku kembali bertemu dengan dia. Ya meskipun dia tidak bersama kekasihnya. Aku fikir, saat itu dia akan menanggilku. Tapi nyatanya ia tidak memanggil sama sekali. Aku tetap berjalan, dan dia tetap ditempatnya. 
Aku pulang dengan keadaan lelah, kepalaku pusing dan penat. Aku membuka handphoneku, berharap dia memberikan satu saja pesan untukku. Tapi nyatanya? tetap nihil. Jam 7 malam, sebuah pesan masuk kedalam handphoneku. Pesan darinya. “Maaf ya, paket aku abis. Line dari kamu baru masuk semua”. Dia berbohong. Aku membalas pesannya seperti biasa. Seakan akan tidak ada yang salah. Seakan akan aku tidak tahu, jam 3 tadi ia berpelukan dengan kekasihnya dikantin luar meja nomer 2 dari kiri. 
Seminggu setelah kejadian itu, aku masih tutup mulut. Aku masih pura pura bahwa aku tidak pernah tahu soal itu, dan aku baik baik saja. Hari demi hari, kebohongannya tidak berkurang satupun. Kekecewaanku bertambah sedikit demi sedikit, membuatku susah bergerak. Karna jika aku ingin menuntut, aku tetap bukan siapa siapanya. Dan sebagai orang ketiga, memang aku punya hak apa?. 
Senin kembali datang, saat itu aku sedang makan di kantin dalam bersama ketiga orang temanku. Entah dari mana, salah satu temanku datang mengaggetkanku. Ia memberikan handphonenya dan berkata “Dia abis ngeupload video ulang tahunnya mas mu di ig”. Dengan tangan gemetar aku membuka video tersebut. Di video yang durasinya sangat singkat itu terlihat ia datang dengan kemeja putih sambil memegang sebuah kue. Ia datang memberikan kejutan untuk masku yang hari itu mengenakan kemeja biru. Temannya datang dari belakang dengan menggenggam sebuah balon. Perempuan berkemeja putih itu tersenyum menatap masku sambil tangannya teteap memegang sebuah kue. Dalam video berdurasi singkat itu, mereka sempat saling bertatap mata. 
Saat mereka bertatap mata aku seketika melihat bagaimana cara mereka bertemu, cara mereka bisa sampai seperti ini. Bagaimana mereka mengasihi satu sama lain, menyayangi satu sama lain. Aku melihat keduanya tersenyum diatas candi borobudur sambil berlari kecil, masku menggenggam tangan perempuan kemeja putih itu. Siapapun yang melihat saat itu pasti tau betul mereka saling mencintai. Aku, tidak memiliki celah sama sekali diantara mereka. Dadaku sesak, tanganku gemetar, kakiku tidak bisa berjalan, air mataku hampir tumpah. Kadang, aku berharap bahwa aku mampu untuk lahir normal seperti kebanyakan orang, memiliki kelebihan yang bisa “mengintip” masa lalu seseorang tidak selalu menyenangkan. 
Aku melepaskan handphone tersebut sambil tetap menunggingkan senyum agar mereka berfikir aku baik baik saja. Pandangankupun langsung tertuju pada masku yang berada tepat dimeja luar kantin yang sejajar denganku. Hari itu dia menggunakan kaos favoritnya, berlengan merah dengan warna dasar abu abu. Untuk pertama kalinya, aku merasa sakit melihatnya. 
Aku hanya tersenyum ketika melewatinya, dan kembali menangis dijembatan sebelum memasuki kelas. Aku baru sadar, masku begitu mencintai perempuan kemeja putih itu. Kenapa aku harus menyusahkannya dengan kehadiranku?. Ia bohong jika bilang ia membutuhkanku, nyatanya ia lebih rela kehilangan aku dari pada perempuan kemeja putih itu. 
Setelah kelas berakhir, aku menemuinya di kantin tempat ia duduk tadi. Dan lagi lagi, untuk pertam kalinya berada dikantin ini membuatku seperti mau mati. Dadaku kembali sesak, aku tidak bisa berfikir, tubuhku gemetaran. Tapi yang aku lakukan tetap berusaha santai, dan berusaha secerewet mungkin agar ia tidak menyadari bahwa aku sudah setengah mati disini. Aku ingin pergi, tapi kakiku mati rasa setiap aku melihat arah meja dimana ia dan kekasihnya duduk saat itu. Entah aku yang terlalu hebat, atau dia yang terlalu bodoh tidak menyadari keberadaanku yang sudah sekarat disampingnya. 
Akhirnya ia pergi lebih dulu, karna ia memiliki kelas pengganti saat itu. Selepas kepergiannya, seperti biasa aku kembali lemas dan pucat. Temanku akhirnya memutuskan untuk mengantarku pulang karna wajahku sudah sangat pucat. 
Tiba dirumah, aku mengirimkan pesan kepada masku yang isinya aku meminta dia untuk memilih. Ingin bersama kekasihnya atau aku?. Kalian tahu? aku menantangnya agar ia mau jujur mengenai apa yang terjadi di hari ulang tahunnya itu, namun dia tetap diam tidak bersuara. Akhirnya, aku jujur dengan apa yang aku lihat dan aku rasakan. Seperti biasa, tanggapannya begitu saja. Mungkin aku memang tidak penting. 
Aku terus memikirkan kejadian itu, yang membuatku seperti kehilangan arah. Aku memintanya melakukan pilihan agar ia berhenti menyakiti salah satu diantara kami. Aku pasti kuat karna aku mencintainya, dan tidak perduli tanggapan orang lain. Tapi bagaimana dengan kekasihnya?. Aku masih ingat dengan pernyataannya yang mengatakan bahwa dia senang dengan keputusanku mengshare foto kami berdua di ig. Kekasihnya melihat semua itu, dan dia masih berkata bahwa ia senang. Aku tidak tahu itu untuk menenangkan aku atau menyindir halus agar aku tidak melakukan hal seperti itu lagi.
Selasa tepat setelah mata kuliah pertama dilantai 4, ketika kami berjalan ditangga seorang temanku menyebutkan sesuatu yang membuatku mengingat video itu. Dan seperti biasa, semua serangan itu menyerangku kembali. Hasilnya? aku jatuh dari tangga karna kehilangan keseimbangan pada kakiku yang mendadak mati rasa. Bahkan ketika jatuhpun aku tidak merasakan apa apa. 
Temanku yang panik, mencoba menelfon masku berkali kali. Ingin memberikan kabar bahwa aku sakit, dan bermaksud memintanya untuk mengantarku pulang. Tapi ya seperti biasa, tanggapannya hanya biasa saja. Seakan tidak ada apa apa. Dia hanya bertanya apa aku sakit atau tidak? Aku memilih berbohong. Kenapa? tidak ingin dia khawatir? Salah, justru aku tidak siap menerima kenyataan bahwa dia tidak akan mengkhawatirkanku. 
Sejak jatuh, kesehatanku berangsur memburuk. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, bahkan terkadang aku lupa bagaimana caranya bernafas saat seseorang atau sesuatu mengingatkan aku pada video tersebut. Selama 4 hari aku tersiksa rasa bersalah dan kecewa. Kadang saat melihat kaca aku merasa ada yang meneriakiku, mencaciku dan membanding bandingkan aku dengan perempuan kemeja putih itu.
Aku tidak mau makan, karna aku ingin tubuhku ideal sama seperti perempuan kemeja putih itu. Aku menggunakan prodak kecantikan agar terlihat cantik, sehingga masku tidak akan malu membawaku kedepan teman temannya. Aku berusaha mencari kerja, agar memiliki penghasilan sehingga bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk masku, sama seperti kekasihnya. Aku perlahan kehilangan akal sehatku, perlahan aku menjadi jauh dengan diriku sendiri. 
Aku sering tersadar, dan mendapati diriku berada di ujung ruangan kamarku memeluk erat kakiku sambil menangis. Tanpa aku sadar sebelumnya apa yang menyebabkan aku menangis. Dan terkadang, aku menangis ketika sedang melakukan aktivitas apapun. Seperti ketika sedang ingin minum, tiba tiba air mata menetes. Padahal aku sedang tidak memikirkan apapun. Aku takut, tapi aku tidak berani cerita pada siapapun apalagi masku. Aku tidak mau dianggap lebay apalagi gila. 
Ada sakit yang tidak bisa aku jelaskan apa penyebabnya, aku merasa dibuang untuk yang kesekian kalinya oleh laki-laki. Aku merasa dikecewakan kembali. Ada sakit hati yang tertutupi besarnya cintaku pada masku yang membuatku tidak bisa melakukan apa apa selain pasrah menerima apa yang terjadi. Hingga akhirnya, di hari jumat aku membuat keputusan yang mungkin akan dianggap tidak wajar oleh sebagian orang.
Aku mengirim pesan pada perempuan kemeja putih itu. Aku meminta maaf, untuk semuan yang aku lakukan. Ia sangat marah, banyak kalimatnya yang terasa sangat menyakitkan karna aku tahu tidak seperti itu keadaannya. Tapi aku hanya bisa diam, aku tidak berani menjelaskan yang sebenarnya. Aku takut, aku takut masku akan kehilangan orang yang dia sayang. Maka, aku membiarkan perempuan kemeja putih itu berpersepsi bahwa aku yang salah. 
Berkali kali aku mencoba meyakinkannya bahwa masku akan tetap memilihnya karna masku mencintainya. Dan aku? hanya sebagai bahan penghibur dihubungan mereka, agak miris memang. Ketika aku mampu berbicara tentang diriku seperti itu, serendah itu. Aku hanya tidak ingin mengelak lagi dari kenyataan. Sudah cukup semua ini menyiksa.
“Lo tau ga, dia tuh sakit gara gara nemenin lo insom! ibunya mikir dia telfonan sama gua sampe larut!”. Aku diam, memandang layar handphoneku berkali kali. Apa aku sebegitu menyusahkan masku?. Apa aku segitunya merepotkan untuknya?. Ucapan terakhir perempuan kemeja putih itu membuatku mantap untuk menyiyakan kemauannya. Aku akan meninggalkan masku, aku tidak akan menemuinya dan aku akan menjauh sejauh mungkin agar hubungan mereka tidak akan terganggu oleh kehadiranku. 
Namun aku meninta syarat, aku memintanya untuk memberikan aku waktu untuk bertemu sebentar dengan masku. Ada sesuatu yang belum selesai. Dan senin lagi lagi aku jadikan pilihan untuk kami bertemu. Ada perasaan bahagia dan sakit sekaligus saat ia datang kearahku. Aku sudah menggunakan semua alat make upku untuk menutupi mata pandaku akibat menangisi keputusan ini. Aku mulai pembicaraan sambil tertawa, aku berusaha mencarikan suasana dan terlihat tegar dan kuat. 
Banyak yang kami bicarakan, dan berkali kali ia mencoba meyakinkan aku dengan keputusanku yang memintanya untuk kembali pada perempuan kemeja putih itu. “Kalo aku balik sama dia, kamu gimana? Bisa bahagia?”. Engga! teriakku yang tentu saja hanya berani kuucapkan dalam hati. “Begini aja, ga gimana gimana. Dan aku harus bisa bahagia” ucapku sambil tersenyum mencoba menahan air mata.
Pembicaraan kami terhenti saat aku bertanya “Kenapa sih kamu ga bisa putusin dia?”. Aku masih ingat betul, dia menjawa pertanyaan itu dengan sangat lama. “Aku.. aku masih belum siap kehilangan dia”. Air mataku sudah tidak kuat lagi, belum siap katanya. Lalu bagaimana dengan semua ucapannya selama ini?. Yang selalu bilang sudah siap jika harus ditinggal oleh perempuan kemeja putih itu?. Dia bohong lagi.
Aku membereskan tasku, dan beranjak pergi sambil menangis. Setelah agak tenang sedikit, aku kembali kerahnya dan meminta handphonenya. “Block semua contact aku” ucapku sambil berdiri didepannya. “Apa hak kamu?” dia balak dengan tidak mau kalah. Kami cekcok sebentar sampai akhirnya ia berjalan pergi meninggalkanku, dan mengatakan bahwa ia akan memblock semua nomerku. Aku menarik tangannya “Kamu mau pisah musuhan kaya gini?”. 
Dia menatapku dengan kesal, “Ya kamu minta aku block, nanti aku block semuanya”. Disitu aku benar benar tidak bisa menahan air mata dan semua sesak yang dari awal aku tahan. “Ya terus kamu fikir, aku mau kaya gini? aku juga gamau!” airmataku menetes. Aku mulai bergumam sambil menangis, tubuhku kaku. 
Tiba tiba, aku sudah berada dipelukannya. “Maafin aku ya” ucapnya sambil mengusap kepalaku berkali kali. Lucunya, saat ia memelukku aku tidak bisa menolak. Aku lelah, aku butuh dia untuk menenangkanku seperti ini. Saat tanganku hendak membalas pelukannya, aku teringat perempuan kemeja putih itu. “Sepertinya sayang lu ke dia udah melebihi sayang gua ke dia. Gausah terlalu mengharapkan bulan”. Dan seketika aku teringat saat saat dimana masku membohongiku atau mengecewakanku.
Aku mundur, melepaskan pelukanku, dan berlari menjauh darinya. Berada dalam pelukannya sambil mengingat bagaimana dia memperlakukanku yang terkadang sesuka hatinya membuat aku hancur kembali. Bahkan ketika aku pergi, dia tidak berbicara sepatah katapun untuk menahanku. Mungkin benar kata perempuan kemeja putih itu. Aku terlalu mendambakan bulan.

Epilog
“Tadi gua udah ngobrol, sesuai janji gua ga akan ganggu kalian lagi. tapi tolong, kalo boleh minta tolong, coba di cek sekali lagi semua contact gua udah di block belum di handphonenya. Semua contactnya udah gua block terus delete. Jadi udah ga ada alesan lagi buat lu ngeraguin dia”. 
Aku mematikan handphoneku, dan berjalan kedepan kaca. “Sekarang, tolong kembalikan kehidupan dan tidurku yang dulunya normal”. Bayangan hitam dibelakangku yang terpantul didepan kaca mengangguk dan meninggalkanku sendiri. Yang ketika ia pergi, terasa sekali betapa sekarang aku hampa ,dan pecahan kaca rias didepanku memintaku untuk menyentuhnya dan menyatukan dia dengan tubuhku pada bagian leher belakang. Tempat dimana masku mengusapku ketika ia memelukku senin kemarin. 

Dia, tidak akan pernah menemukan lagi perempuan seperti aku dalam hidupnya. Bahkan didalam tubuhku sendiri. 

Thursday, November 28, 2013

Untuk Galuh

Lewat kaca mata aku melihat

Seuntai rambut panjang tergerai angin

Senyum manis terlihat dari segaris pipi putih berseri

Kaos oblomg polos menyelimuti lekuk mu

Seperti bidadari dari surga, kau datang dengan selendang

Menempatkan ruang di hati dengan sendirinya

Wajah penuh senyum itu menyinari ruangan ini

Namun sayang hatiku tak kunjung sabar

Maka aku pergi meninggalkan ruang di hatimu

Seperti dulu kamu menempatkan ruang dengan sengaja, aku pun meninggalkanmu dengan sengaja

maafkan aku yang terlalu lemah untuk berkata selamat tinggal

Hanya lewat tulisan ini dapat ku tulis maaf

Semoga kau memafaakannya

 

Dari pemujamu.....