Sunday, October 4, 2015

I'am Not Perfect, But Someday I Will.

Wangi dari kaldu oden yang kupesan membuyarkan lamunanku pada sekumpulan remaja yang sedang asyik berbicara bersama teman temannya. Wajah dari salah satu pemuda itu mirip dengan Nyle kontestan America Next Top Model. Aku tidak bisa dengan jelas mendengarkan apa yang tepatnya merea sedang bicarakan, karna rumah makan ini sangat ramai dijam makan siang seperti ini. Entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku ingin mengenal pemuda itu lebih jauh. Tenang, aku tidak akan merayunya jika itu apa yang kalian fikirkan. Maksudku, kalian tahu kepada siapa hatiku sudah terikat. Dan kalian tahu pasti aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, dan bukan orang yang mudah untuk menggantikan kehadiran seseorang dengan orang baru. Bahkan didalam kenyataan bahwa mungkin kita tidak akan bisa bersama, bukan mencoba untuk berkata klise. Tapi memang kadang cinta tidak selamanya harus bersama, lagipula siapa yang bisa menjamin kedepannya kita tidak bisa bersama. Selagi kita masih percaya bahwa jodoh kita ada di tangan Tuhan, tidak ada salahnya berdoa dan berharap bukan?. Oke, balik ke topik. Aku teringat sesuatu, oh iya aku belum menyelesaikan tugas kuisonerku. Aku bisa memintanya membantuku untuk mengisi kuisoner ini sebagai tamengku untuk berkenalan dengannya. Namun, saat melihat kursi disampingku kosong membuatku berfikir dua kali mengenai keputusan ini. Aku agak menyesal hari ini pergi sendiri dengan gegabah. Hari ini entah kenapa aku ingin sekali pergi kebogor, karna laki laki yang menjanjikan hari ini akan mengajakku kebogor sudah hilang maka terpaksa aku pergi sendiri. Aku pergi ditemani supir teman papa, dan sayangnya supir tersebut menolak untuk makan bersamaku disini. Jika aku pergi ke tempat Nyle ala indonesia itu, bisa dipastikan mejaku akan menjadi sasaran hangat bagi mereka yang sedari tadi menuggu meja kosong. Akupun belum menyelesaikan makananku, dan aku tidak sudi jika harus mencari meja baru. Akhirnya kuputuskan untuk memakan sampai habis makananku, baru aku akan meminta bantuannya. Dalam 20 menit aku berhasil menghabiskan seluruh makanan yang kupesan, sepertinya udara bogor memang merayuku untuk makan banyak. Setelah selesai, aku berjalan pelan kearah meja Nyle ala indonesia itu. Mejanya tepat didepanku, hanya terbentang satu meja. Aku datang dan melemparkan senyuman manis "Hai, maaf boleh minta waktunya sebentar?". Dia dan teman temannya hanya menggangguk tanda setuju. Akupun mulai menjelaskan maksud dan tujuanku meminta bantuan mereka untuk mengisi kuisonerku. Mereka tidak banyak bicara, hanya sesekali tersenyum dan menunjuk nomer yang mereka rasa kurang mengerti. Aku akan menjelaskan maksud pertanyaan tersebut sampai akhirnya mereka tersenyum dan membentuk huruf "o" dengan telunjuk dan ibu jari. Nyle ala indonesia itu ternyata selesai lebih dulu. Ia menepuk bangku disebelahnya mempersilahkan aku duduk, dan aku mulai menyadari sesuatu. Namun aku diam, menunggu mereka akan "memberikan" kepastian kepadaku. "Makasih ya, oh iya namanya siapa?". Dia menjawab dengan bahasa tangan, oke ternyata dugaanku benar. Mereka semua bisu. Jika kalian tidak memperhatikannya dengan teliti, kalian tidak akan menduga bahwa mereka sebenarnya bisu. Mereka terlihat normal, aku masih ingat betapa mereka terlihat riang saat menyambut teman teman mereka yang satu persatu berdatangan. Aku pun mulai mengenal mereka satu persatu. Mereka tidak malu, mereka tidak canggung. Hebat sekali gumamku dalam hati. Meskipun mereka bisu, namun tidak menghambat pengetahuan mereka sama sekali termaksud soal fashion. Salah satu perempuan berambut bob berkata padaku bahwa ia sangat mencintai fashion. Dapat terlihat memang dari cara ia memnggunakan pakaian. Dengan tubuhnya yang proposional, ia terlihat begitu menawan dengan dandanan kasualnya yang memberikan kesan tomboy sedikit namun tidak menghilangkan tingkat feminimnya. Ia menggunakan kaos putih, yang dipadukan dengan celana jeans belel dan lehernya dihiasi scraf bermotif bunga pink dengan warna dasar hitam. Rambut bob lurusnya digerai. Hidung mancungnya terlihat semakin menyempurnakan penampilannya saat itu. Nyle ala indonesia itu mengatakan bahwa mereka teman dekat sejak sma, sekarang mereka sedang berlibur dari aktifitas mereka sehari hari. Beberapa diantara mereka memilih untuk melanjutkan ke tingkat perkuliahan namun beberapa memilih untuk bekerja. Lucu sekali, dalam waktu kurang dari 20 menit aku sudah merasa menjadi bagian dari mereka. Mereka menertawakan aku yang berkali kali salah dalam mengartikan bahasa tangan mereka. Padahal, aku sudah takut mereka akan tersinggung. Berada disekitar mereka, aku merasa sama sekali tidak terintimidasi. Mereka begitu terbuka, begitu menyukai teman baru. Andai aku bisa menetap disini, dan menjadi bagian dari mereka. Aku melirik jam, dan suka tidak suka harus pergi. Aku berpamitan pada mereka, dan mengucapkan terima kasih sekali lagi untuk pelajaran berharganya hari ini. Mereka menuliskan pesan untukku saat aku lekas berjalan pergi meninggalkan mereka yang isinya "Dunia boleh meremehkan apa yang kamu punya sekarang, dan siapa kamu hari ini. Tapi kamu dan Tuhanlah yang paling tahu seberapa besar potensimu. Berjuang ya, kami yakin kamu bisa jadi seorang psikolog yang hebat". Aku menggenggam kertas tersebut, dan menatap mereka bergantian sambil tersenyum. Aku paham, terkadang Tuhan memang mempertemukan kita dengan seseorang yang tidak pernah kita duga agar kita bisa mengambil pelajaran dari mereka. Entah pembicaraan dengan mereka yang bisa kita jadikan pelajaran, atau perbuatan mereka. Jika saat ini, Tuhan sedang mempertemukan kamu dengan seorang bajingan ataupun seorang berengsek, percayalah Tuhan dengan ingin memberikan pelajaran untukmu lewat mereka. Kadang, kita harus merasakan disakiti oleh seorang bajingan atau berengsek untuk menghidari kita menjadi salah satu bagian dari mereka. Dan kadang, kita dipertemukan dengan malaikat tak bersuara agar kita bisa menghargai betapa mahalnya suara kita, diri kita. Jika mereka yang kalian anggap tidak sempurna karna tidak memiliki suara bisa membela dirinya dan tidak membiarkan dunia membelah mereka dengan kehidupan normal kenapa kita yang katanya sempurna tidak mau membela diri sendiri dan malah membelah diri dengan kehidupan?. Sampai tulisan ini dibuat, aku masih saja memikirkan pertemuan dengan mereka tadi. Banyak yang ingin kuceritakan, namun sepertinya aku lebih memilih untuk termenung dan tersenyum mengingat perkenalan singkat yang sangat menyegarkan otakku tadi. Hahaha.

Wednesday, September 30, 2015

Orang ketiga

Orang Ketiga
Kekuatan cinta tidak akan sebanding dengan kekuatan harapan

Prolog
Ada ketakutan terbesar yang belum selesai dan sepertinya tidak akan pernah selesai. Aku tidak ingin kehilanganmu, namun di satu sisi aku tidak bisa membiarkan seseorang terluka atas egoku. Tapi, bukannya sifat dasar manusia itu memang egois?. Lalu kenapa aku tidak boleh? Toh bukan aku juga yang ingin memulai semua ini. Aku hanya meminta apa yang seharusnya aku dapatkan. Kenapa malah jadi seperti ini?. 

****
Percayalah, menunggu adalah sesuatu yang paling tidak menyenangkan. Bahkan jika itu terlihat sangat kecil dan sepele. Seperti sekarang ini, aku hanya mampu diam menatap layar handphoneku, berharap dia membalas pesanku. Nihil, sudah setengah jam aku menunggu dan tidak ada balasan. 
Kadang, aku ingin membencinya, karna datang dan pergi semaunya. Terkadang terlihat seperti mencintaiku, namun seketika pergi begitu saja. Sudah berapa kali hubungan kami pasang surut, ada kalanya kami bertengkar dan memutuskan untuk berpisah namun salah satu diantara kami pasti akhirnya melunak dan kami kembali menjalin hubungan seperti tidak ada yang salah. 
Mungkin, sudah sekitar setengah tahun aku mengenalnya. Memang kami masih termaksud baru kenal. Akupun bahkan belum tahu dimana tempat tinggalnya, tapi itu bukan masalah bagiku. Aku memang keras, saat sudah menginginkan sesuatu aku tidak akan berpaling pada yang lain. Seperti halnya ketika aku sudah menyukai seseorang, aku hanya akan terus menatapnya. 
Entah sudah berapa kali hubungan kami pasang surut dalam waktu setengah tahun ini. Mulai dengan dia ketahuan sudah memiliki pacar, lalu dia yang menjauh karna risih dengan pertanyaan-pertanyaan yang ku ajukan, sampai akhirnya aku yang memutuskannya. Ya meskipun pada ujungnya kami tetap kembali. Iya, aku selalu kembali padanya dengan status yang sama. Status yang tidak jelas siapa aku untuknya. Teman, pacar, atau mungkin lebih tepatnya selir hatinya.
Kalian pasti berfikir, laki-laki seperti apa hingga mampu membuatku jatuh terduduk dihadapannya dan terkesan memujanya. Jawabanku, dia adalah laki-laki yang sangat biasa saja nyaris sangat normal. Tapi ke normalannya lah yang pada akhirnya mampu mengetuk hatiku untuk mempersilahkannya masuk. Aku suka senyumnya, tapi aku sangat membenci kala ia memanggilku dengan nama asliku. Aku ingin berbeda, aku ingin ia memiliki panggilan sayang untukku, seperti aku yang memanggilnya “mas”. 
Tapi aku tidak bisa menuntut apa apa padanya, meskipun hubungan kita tidak jelas seperti apa tapi aku bahagia. Sesimple itu, bukan bermaksud naif atau apa. Aku hanya tidak ingin munafik. Aku mencintainya, sudah pasti aku ingin bersamanya. Bersamanya bukan berarti aku harus memilikinya, karna ternyata aku tidak kuat juga untuk menyingkirkan kekasihnya. Kadang, saat temanku bercerita mengenai kasus perselingkuhan yang terjadi pada orang terdekat mereka aku hanya bisa berpura pura simpati. Seakan akan aku turut serta menyalahkan perempuan yang mau dijadikan selingkuhan itu. Tanpa pernah mereka tahu, hatiku dan otakku berteriak menyerukan bahwa aku juga selingkuhan, dan tidak sepantasnya aku bersikap seperti itu.
Biasanya setelah pembicaraan itu selesai dan mereka pergi, aku akan mencari tempat sepi untuk menangis. Apa memang jalanku seperti ini?. Apa aku memang pantasnya jadi seorang selingkuhan?. Apa aku tidak bisa mendapatkan apa yang teman sebayaku dapatkan. Aku pernah mencoba menjalin hubungan dengan seorang anak direktur, yang seketika aku putuskan begitu saja saat mengetahui bahwa masku itu sakit. Aku yang mendapat kabar tersebut langung panik, dan mematikan telfon dari pacarku tersebut. Dan mencoba untuk menelfon masku itu, tapi jawabannya? aku hanya didiamkan. 
Dan disitu aku akhirnya berfikir, bahwa ini salah. Aku tidak boleh membiarkan seseorang masuk kedalam hatiku jika aku belum siap. Akhirnya aku memilih untuk memutuskannya. Aku kehilangan laki laki sebaik itu hanya karna aku mencintai masku yang sudah memiliki pujaan hatinya sendiri. Iya, aku memang menyedihkan. 
Hari ini, hari ulang tahunnya. Meskipun aku sudah memberikan kejutan untuk dia 2 hari yang lalu, aku ingin memberikan kejutan lain lagi untuknya. Aku menyiapkan beberapa persiapan, dia pasti tidak akan menduganya. Handphoneku berbunyi, menandakan sebuah pesan darinya. Akupun menjemputnya yang hari itu ku tantang untuk mengikuti kelasku. Dia datang bersama seorang temannya. Duduk persis dibelakangku. Semua berjalan sesuai rencana, dia tidak curiga. 
Aku berniat untuk memberikannya kejutan di tower hari itu, setelah kelas. Alasan yang aku utarakan padanya adalah aku ingin mengerjakan tugas. Padahal, aku menyiapkan kejutan kecil untuknya. Aku membuatkannya sebuah kue kecil berbentuk wajah panda, hewan imut yang selalu kusamakan dengannya. Aku bersama temanku menunggunya disana, kalian tidak akan pernah tahu betapa bahagianya aku saat itu. Senyumku melebar tinggi dihari itu, tanpa beban hanya ada kebahagiaan. 
Aku menunggunya selama 2 jam, berkali kali aku mencoba menghubunginya namun tidak ada balasan. Aku mencoba menelfonnya, namun nomernya selalu berada di luar jangkauan. Senyum yang dari tadi aku kembangkan berubah menjadi kekawatiran, kemana masku?. Akupun memutuskan untuk membuang kue tersebut, mungkin ini tidak penting lagi baginya. Namun, aku tidak mampu membuang kotak kecil bersampul ditangan kiriku. Hadiah ini masih bisa aku berikan besok, gumamku dalam hati.
Aku mencoba mencarinya kekantin, berharap menemukan sosoknya. Nihil, akhirnya aku melangkahkan kakiku ke Lab Psikologi sekaligus mengantar teman temanku yang ingin kelas disana. Tepat pukul jam 3, aku memiliki keinginan yang kuat untuk kembali kekantin. Seakan akan aku akan melihat sesuatu yang besar disana. Keinginanku sangat kuat, aku memohon pada salah satu temanku untuk menemaniku.   
Kalian tahu apa yang aku lihat? aku melihat sosoknya berjalan ke arah kantin didekat pintu keluar, ia membeli sebotol air mineral. Aku mengikutinya dari belakang sambil tersenyum karna kembali menemukan sosoknya. Tapi senyumku menghilang, saat ia memberikan botol itu pada seorang perempuan berkemeja putih disampingnya. Iya, perempuan itu kekasihnya, bukan seperti aku tapi kekasih sungguhannya. 
Dalam waktu sepersekian detik, aku dan kekasihya sempat saling menatap. Tatapan matanya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan sampai saat ini. Aku paham, dia menghilang karna masku itu sedang bersama kekasihnya. Seperti pada umumnya, yang kedua akan selalu ditinggalkan saat yang pertama tiba. Karna pada dasarnya, aku hanya pelengkap kebahagiaannya bukan sarana kebahagiaannya. 
Aku tahu, jika aku menampakan sosok kecewaku pada temanku ia pasti akan langsung sadar bahwa perempuan kemeja putih itu adalah kekasih masku. Akupun pura pura tertawa, pura pura bernyanyi tidak jelas seperti biasanya. Ia keluar dari bilik kamar mandi sambil memelukku, sial umpatku dalam hati. Ternyata temanku ini benar benar peka. Ia paham apa yang aku lihat. Aku hanya memeluk dan tersenyum simpul menandakan aku tidak apa apa. 
Aku dan temanku memutuskan untuk pergi dari sana secepatnya, saat temanku akhirnya memulai kelasnya aku menangis dijembatan. Aku tidak tahu akan sesakit itu melihat mereka bersama. Aku menangis seperti orang bodoh selama sejam di jembatan, jam 4 tepat aku memutuskan untuk pulang. Sialnya, aku kembali bertemu dengan dia. Ya meskipun dia tidak bersama kekasihnya. Aku fikir, saat itu dia akan menanggilku. Tapi nyatanya ia tidak memanggil sama sekali. Aku tetap berjalan, dan dia tetap ditempatnya. 
Aku pulang dengan keadaan lelah, kepalaku pusing dan penat. Aku membuka handphoneku, berharap dia memberikan satu saja pesan untukku. Tapi nyatanya? tetap nihil. Jam 7 malam, sebuah pesan masuk kedalam handphoneku. Pesan darinya. “Maaf ya, paket aku abis. Line dari kamu baru masuk semua”. Dia berbohong. Aku membalas pesannya seperti biasa. Seakan akan tidak ada yang salah. Seakan akan aku tidak tahu, jam 3 tadi ia berpelukan dengan kekasihnya dikantin luar meja nomer 2 dari kiri. 
Seminggu setelah kejadian itu, aku masih tutup mulut. Aku masih pura pura bahwa aku tidak pernah tahu soal itu, dan aku baik baik saja. Hari demi hari, kebohongannya tidak berkurang satupun. Kekecewaanku bertambah sedikit demi sedikit, membuatku susah bergerak. Karna jika aku ingin menuntut, aku tetap bukan siapa siapanya. Dan sebagai orang ketiga, memang aku punya hak apa?. 
Senin kembali datang, saat itu aku sedang makan di kantin dalam bersama ketiga orang temanku. Entah dari mana, salah satu temanku datang mengaggetkanku. Ia memberikan handphonenya dan berkata “Dia abis ngeupload video ulang tahunnya mas mu di ig”. Dengan tangan gemetar aku membuka video tersebut. Di video yang durasinya sangat singkat itu terlihat ia datang dengan kemeja putih sambil memegang sebuah kue. Ia datang memberikan kejutan untuk masku yang hari itu mengenakan kemeja biru. Temannya datang dari belakang dengan menggenggam sebuah balon. Perempuan berkemeja putih itu tersenyum menatap masku sambil tangannya teteap memegang sebuah kue. Dalam video berdurasi singkat itu, mereka sempat saling bertatap mata. 
Saat mereka bertatap mata aku seketika melihat bagaimana cara mereka bertemu, cara mereka bisa sampai seperti ini. Bagaimana mereka mengasihi satu sama lain, menyayangi satu sama lain. Aku melihat keduanya tersenyum diatas candi borobudur sambil berlari kecil, masku menggenggam tangan perempuan kemeja putih itu. Siapapun yang melihat saat itu pasti tau betul mereka saling mencintai. Aku, tidak memiliki celah sama sekali diantara mereka. Dadaku sesak, tanganku gemetar, kakiku tidak bisa berjalan, air mataku hampir tumpah. Kadang, aku berharap bahwa aku mampu untuk lahir normal seperti kebanyakan orang, memiliki kelebihan yang bisa “mengintip” masa lalu seseorang tidak selalu menyenangkan. 
Aku melepaskan handphone tersebut sambil tetap menunggingkan senyum agar mereka berfikir aku baik baik saja. Pandangankupun langsung tertuju pada masku yang berada tepat dimeja luar kantin yang sejajar denganku. Hari itu dia menggunakan kaos favoritnya, berlengan merah dengan warna dasar abu abu. Untuk pertama kalinya, aku merasa sakit melihatnya. 
Aku hanya tersenyum ketika melewatinya, dan kembali menangis dijembatan sebelum memasuki kelas. Aku baru sadar, masku begitu mencintai perempuan kemeja putih itu. Kenapa aku harus menyusahkannya dengan kehadiranku?. Ia bohong jika bilang ia membutuhkanku, nyatanya ia lebih rela kehilangan aku dari pada perempuan kemeja putih itu. 
Setelah kelas berakhir, aku menemuinya di kantin tempat ia duduk tadi. Dan lagi lagi, untuk pertam kalinya berada dikantin ini membuatku seperti mau mati. Dadaku kembali sesak, aku tidak bisa berfikir, tubuhku gemetaran. Tapi yang aku lakukan tetap berusaha santai, dan berusaha secerewet mungkin agar ia tidak menyadari bahwa aku sudah setengah mati disini. Aku ingin pergi, tapi kakiku mati rasa setiap aku melihat arah meja dimana ia dan kekasihnya duduk saat itu. Entah aku yang terlalu hebat, atau dia yang terlalu bodoh tidak menyadari keberadaanku yang sudah sekarat disampingnya. 
Akhirnya ia pergi lebih dulu, karna ia memiliki kelas pengganti saat itu. Selepas kepergiannya, seperti biasa aku kembali lemas dan pucat. Temanku akhirnya memutuskan untuk mengantarku pulang karna wajahku sudah sangat pucat. 
Tiba dirumah, aku mengirimkan pesan kepada masku yang isinya aku meminta dia untuk memilih. Ingin bersama kekasihnya atau aku?. Kalian tahu? aku menantangnya agar ia mau jujur mengenai apa yang terjadi di hari ulang tahunnya itu, namun dia tetap diam tidak bersuara. Akhirnya, aku jujur dengan apa yang aku lihat dan aku rasakan. Seperti biasa, tanggapannya begitu saja. Mungkin aku memang tidak penting. 
Aku terus memikirkan kejadian itu, yang membuatku seperti kehilangan arah. Aku memintanya melakukan pilihan agar ia berhenti menyakiti salah satu diantara kami. Aku pasti kuat karna aku mencintainya, dan tidak perduli tanggapan orang lain. Tapi bagaimana dengan kekasihnya?. Aku masih ingat dengan pernyataannya yang mengatakan bahwa dia senang dengan keputusanku mengshare foto kami berdua di ig. Kekasihnya melihat semua itu, dan dia masih berkata bahwa ia senang. Aku tidak tahu itu untuk menenangkan aku atau menyindir halus agar aku tidak melakukan hal seperti itu lagi.
Selasa tepat setelah mata kuliah pertama dilantai 4, ketika kami berjalan ditangga seorang temanku menyebutkan sesuatu yang membuatku mengingat video itu. Dan seperti biasa, semua serangan itu menyerangku kembali. Hasilnya? aku jatuh dari tangga karna kehilangan keseimbangan pada kakiku yang mendadak mati rasa. Bahkan ketika jatuhpun aku tidak merasakan apa apa. 
Temanku yang panik, mencoba menelfon masku berkali kali. Ingin memberikan kabar bahwa aku sakit, dan bermaksud memintanya untuk mengantarku pulang. Tapi ya seperti biasa, tanggapannya hanya biasa saja. Seakan tidak ada apa apa. Dia hanya bertanya apa aku sakit atau tidak? Aku memilih berbohong. Kenapa? tidak ingin dia khawatir? Salah, justru aku tidak siap menerima kenyataan bahwa dia tidak akan mengkhawatirkanku. 
Sejak jatuh, kesehatanku berangsur memburuk. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, bahkan terkadang aku lupa bagaimana caranya bernafas saat seseorang atau sesuatu mengingatkan aku pada video tersebut. Selama 4 hari aku tersiksa rasa bersalah dan kecewa. Kadang saat melihat kaca aku merasa ada yang meneriakiku, mencaciku dan membanding bandingkan aku dengan perempuan kemeja putih itu.
Aku tidak mau makan, karna aku ingin tubuhku ideal sama seperti perempuan kemeja putih itu. Aku menggunakan prodak kecantikan agar terlihat cantik, sehingga masku tidak akan malu membawaku kedepan teman temannya. Aku berusaha mencari kerja, agar memiliki penghasilan sehingga bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk masku, sama seperti kekasihnya. Aku perlahan kehilangan akal sehatku, perlahan aku menjadi jauh dengan diriku sendiri. 
Aku sering tersadar, dan mendapati diriku berada di ujung ruangan kamarku memeluk erat kakiku sambil menangis. Tanpa aku sadar sebelumnya apa yang menyebabkan aku menangis. Dan terkadang, aku menangis ketika sedang melakukan aktivitas apapun. Seperti ketika sedang ingin minum, tiba tiba air mata menetes. Padahal aku sedang tidak memikirkan apapun. Aku takut, tapi aku tidak berani cerita pada siapapun apalagi masku. Aku tidak mau dianggap lebay apalagi gila. 
Ada sakit yang tidak bisa aku jelaskan apa penyebabnya, aku merasa dibuang untuk yang kesekian kalinya oleh laki-laki. Aku merasa dikecewakan kembali. Ada sakit hati yang tertutupi besarnya cintaku pada masku yang membuatku tidak bisa melakukan apa apa selain pasrah menerima apa yang terjadi. Hingga akhirnya, di hari jumat aku membuat keputusan yang mungkin akan dianggap tidak wajar oleh sebagian orang.
Aku mengirim pesan pada perempuan kemeja putih itu. Aku meminta maaf, untuk semuan yang aku lakukan. Ia sangat marah, banyak kalimatnya yang terasa sangat menyakitkan karna aku tahu tidak seperti itu keadaannya. Tapi aku hanya bisa diam, aku tidak berani menjelaskan yang sebenarnya. Aku takut, aku takut masku akan kehilangan orang yang dia sayang. Maka, aku membiarkan perempuan kemeja putih itu berpersepsi bahwa aku yang salah. 
Berkali kali aku mencoba meyakinkannya bahwa masku akan tetap memilihnya karna masku mencintainya. Dan aku? hanya sebagai bahan penghibur dihubungan mereka, agak miris memang. Ketika aku mampu berbicara tentang diriku seperti itu, serendah itu. Aku hanya tidak ingin mengelak lagi dari kenyataan. Sudah cukup semua ini menyiksa.
“Lo tau ga, dia tuh sakit gara gara nemenin lo insom! ibunya mikir dia telfonan sama gua sampe larut!”. Aku diam, memandang layar handphoneku berkali kali. Apa aku sebegitu menyusahkan masku?. Apa aku segitunya merepotkan untuknya?. Ucapan terakhir perempuan kemeja putih itu membuatku mantap untuk menyiyakan kemauannya. Aku akan meninggalkan masku, aku tidak akan menemuinya dan aku akan menjauh sejauh mungkin agar hubungan mereka tidak akan terganggu oleh kehadiranku. 
Namun aku meninta syarat, aku memintanya untuk memberikan aku waktu untuk bertemu sebentar dengan masku. Ada sesuatu yang belum selesai. Dan senin lagi lagi aku jadikan pilihan untuk kami bertemu. Ada perasaan bahagia dan sakit sekaligus saat ia datang kearahku. Aku sudah menggunakan semua alat make upku untuk menutupi mata pandaku akibat menangisi keputusan ini. Aku mulai pembicaraan sambil tertawa, aku berusaha mencarikan suasana dan terlihat tegar dan kuat. 
Banyak yang kami bicarakan, dan berkali kali ia mencoba meyakinkan aku dengan keputusanku yang memintanya untuk kembali pada perempuan kemeja putih itu. “Kalo aku balik sama dia, kamu gimana? Bisa bahagia?”. Engga! teriakku yang tentu saja hanya berani kuucapkan dalam hati. “Begini aja, ga gimana gimana. Dan aku harus bisa bahagia” ucapku sambil tersenyum mencoba menahan air mata.
Pembicaraan kami terhenti saat aku bertanya “Kenapa sih kamu ga bisa putusin dia?”. Aku masih ingat betul, dia menjawa pertanyaan itu dengan sangat lama. “Aku.. aku masih belum siap kehilangan dia”. Air mataku sudah tidak kuat lagi, belum siap katanya. Lalu bagaimana dengan semua ucapannya selama ini?. Yang selalu bilang sudah siap jika harus ditinggal oleh perempuan kemeja putih itu?. Dia bohong lagi.
Aku membereskan tasku, dan beranjak pergi sambil menangis. Setelah agak tenang sedikit, aku kembali kerahnya dan meminta handphonenya. “Block semua contact aku” ucapku sambil berdiri didepannya. “Apa hak kamu?” dia balak dengan tidak mau kalah. Kami cekcok sebentar sampai akhirnya ia berjalan pergi meninggalkanku, dan mengatakan bahwa ia akan memblock semua nomerku. Aku menarik tangannya “Kamu mau pisah musuhan kaya gini?”. 
Dia menatapku dengan kesal, “Ya kamu minta aku block, nanti aku block semuanya”. Disitu aku benar benar tidak bisa menahan air mata dan semua sesak yang dari awal aku tahan. “Ya terus kamu fikir, aku mau kaya gini? aku juga gamau!” airmataku menetes. Aku mulai bergumam sambil menangis, tubuhku kaku. 
Tiba tiba, aku sudah berada dipelukannya. “Maafin aku ya” ucapnya sambil mengusap kepalaku berkali kali. Lucunya, saat ia memelukku aku tidak bisa menolak. Aku lelah, aku butuh dia untuk menenangkanku seperti ini. Saat tanganku hendak membalas pelukannya, aku teringat perempuan kemeja putih itu. “Sepertinya sayang lu ke dia udah melebihi sayang gua ke dia. Gausah terlalu mengharapkan bulan”. Dan seketika aku teringat saat saat dimana masku membohongiku atau mengecewakanku.
Aku mundur, melepaskan pelukanku, dan berlari menjauh darinya. Berada dalam pelukannya sambil mengingat bagaimana dia memperlakukanku yang terkadang sesuka hatinya membuat aku hancur kembali. Bahkan ketika aku pergi, dia tidak berbicara sepatah katapun untuk menahanku. Mungkin benar kata perempuan kemeja putih itu. Aku terlalu mendambakan bulan.

Epilog
“Tadi gua udah ngobrol, sesuai janji gua ga akan ganggu kalian lagi. tapi tolong, kalo boleh minta tolong, coba di cek sekali lagi semua contact gua udah di block belum di handphonenya. Semua contactnya udah gua block terus delete. Jadi udah ga ada alesan lagi buat lu ngeraguin dia”. 
Aku mematikan handphoneku, dan berjalan kedepan kaca. “Sekarang, tolong kembalikan kehidupan dan tidurku yang dulunya normal”. Bayangan hitam dibelakangku yang terpantul didepan kaca mengangguk dan meninggalkanku sendiri. Yang ketika ia pergi, terasa sekali betapa sekarang aku hampa ,dan pecahan kaca rias didepanku memintaku untuk menyentuhnya dan menyatukan dia dengan tubuhku pada bagian leher belakang. Tempat dimana masku mengusapku ketika ia memelukku senin kemarin. 

Dia, tidak akan pernah menemukan lagi perempuan seperti aku dalam hidupnya. Bahkan didalam tubuhku sendiri.