Wangi dari kaldu oden yang kupesan membuyarkan lamunanku pada sekumpulan remaja yang sedang asyik berbicara bersama teman temannya. Wajah dari salah satu pemuda itu mirip dengan Nyle kontestan America Next Top Model. Aku tidak bisa dengan jelas mendengarkan apa yang tepatnya merea sedang bicarakan, karna rumah makan ini sangat ramai dijam makan siang seperti ini. Entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku ingin mengenal pemuda itu lebih jauh. Tenang, aku tidak akan merayunya jika itu apa yang kalian fikirkan. Maksudku, kalian tahu kepada siapa hatiku sudah terikat. Dan kalian tahu pasti aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, dan bukan orang yang mudah untuk menggantikan kehadiran seseorang dengan orang baru. Bahkan didalam kenyataan bahwa mungkin kita tidak akan bisa bersama, bukan mencoba untuk berkata klise. Tapi memang kadang cinta tidak selamanya harus bersama, lagipula siapa yang bisa menjamin kedepannya kita tidak bisa bersama. Selagi kita masih percaya bahwa jodoh kita ada di tangan Tuhan, tidak ada salahnya berdoa dan berharap bukan?. Oke, balik ke topik. Aku teringat sesuatu, oh iya aku belum menyelesaikan tugas kuisonerku. Aku bisa memintanya membantuku untuk mengisi kuisoner ini sebagai tamengku untuk berkenalan dengannya. Namun, saat melihat kursi disampingku kosong membuatku berfikir dua kali mengenai keputusan ini. Aku agak menyesal hari ini pergi sendiri dengan gegabah. Hari ini entah kenapa aku ingin sekali pergi kebogor, karna laki laki yang menjanjikan hari ini akan mengajakku kebogor sudah hilang maka terpaksa aku pergi sendiri. Aku pergi ditemani supir teman papa, dan sayangnya supir tersebut menolak untuk makan bersamaku disini. Jika aku pergi ke tempat Nyle ala indonesia itu, bisa dipastikan mejaku akan menjadi sasaran hangat bagi mereka yang sedari tadi menuggu meja kosong. Akupun belum menyelesaikan makananku, dan aku tidak sudi jika harus mencari meja baru. Akhirnya kuputuskan untuk memakan sampai habis makananku, baru aku akan meminta bantuannya. Dalam 20 menit aku berhasil menghabiskan seluruh makanan yang kupesan, sepertinya udara bogor memang merayuku untuk makan banyak. Setelah selesai, aku berjalan pelan kearah meja Nyle ala indonesia itu. Mejanya tepat didepanku, hanya terbentang satu meja. Aku datang dan melemparkan senyuman manis "Hai, maaf boleh minta waktunya sebentar?". Dia dan teman temannya hanya menggangguk tanda setuju. Akupun mulai menjelaskan maksud dan tujuanku meminta bantuan mereka untuk mengisi kuisonerku. Mereka tidak banyak bicara, hanya sesekali tersenyum dan menunjuk nomer yang mereka rasa kurang mengerti. Aku akan menjelaskan maksud pertanyaan tersebut sampai akhirnya mereka tersenyum dan membentuk huruf "o" dengan telunjuk dan ibu jari. Nyle ala indonesia itu ternyata selesai lebih dulu. Ia menepuk bangku disebelahnya mempersilahkan aku duduk, dan aku mulai menyadari sesuatu. Namun aku diam, menunggu mereka akan "memberikan" kepastian kepadaku. "Makasih ya, oh iya namanya siapa?". Dia menjawab dengan bahasa tangan, oke ternyata dugaanku benar. Mereka semua bisu. Jika kalian tidak memperhatikannya dengan teliti, kalian tidak akan menduga bahwa mereka sebenarnya bisu. Mereka terlihat normal, aku masih ingat betapa mereka terlihat riang saat menyambut teman teman mereka yang satu persatu berdatangan. Aku pun mulai mengenal mereka satu persatu. Mereka tidak malu, mereka tidak canggung. Hebat sekali gumamku dalam hati. Meskipun mereka bisu, namun tidak menghambat pengetahuan mereka sama sekali termaksud soal fashion. Salah satu perempuan berambut bob berkata padaku bahwa ia sangat mencintai fashion. Dapat terlihat memang dari cara ia memnggunakan pakaian. Dengan tubuhnya yang proposional, ia terlihat begitu menawan dengan dandanan kasualnya yang memberikan kesan tomboy sedikit namun tidak menghilangkan tingkat feminimnya. Ia menggunakan kaos putih, yang dipadukan dengan celana jeans belel dan lehernya dihiasi scraf bermotif bunga pink dengan warna dasar hitam. Rambut bob lurusnya digerai. Hidung mancungnya terlihat semakin menyempurnakan penampilannya saat itu. Nyle ala indonesia itu mengatakan bahwa mereka teman dekat sejak sma, sekarang mereka sedang berlibur dari aktifitas mereka sehari hari. Beberapa diantara mereka memilih untuk melanjutkan ke tingkat perkuliahan namun beberapa memilih untuk bekerja. Lucu sekali, dalam waktu kurang dari 20 menit aku sudah merasa menjadi bagian dari mereka. Mereka menertawakan aku yang berkali kali salah dalam mengartikan bahasa tangan mereka. Padahal, aku sudah takut mereka akan tersinggung. Berada disekitar mereka, aku merasa sama sekali tidak terintimidasi. Mereka begitu terbuka, begitu menyukai teman baru. Andai aku bisa menetap disini, dan menjadi bagian dari mereka. Aku melirik jam, dan suka tidak suka harus pergi. Aku berpamitan pada mereka, dan mengucapkan terima kasih sekali lagi untuk pelajaran berharganya hari ini. Mereka menuliskan pesan untukku saat aku lekas berjalan pergi meninggalkan mereka yang isinya "Dunia boleh meremehkan apa yang kamu punya sekarang, dan siapa kamu hari ini. Tapi kamu dan Tuhanlah yang paling tahu seberapa besar potensimu. Berjuang ya, kami yakin kamu bisa jadi seorang psikolog yang hebat". Aku menggenggam kertas tersebut, dan menatap mereka bergantian sambil tersenyum. Aku paham, terkadang Tuhan memang mempertemukan kita dengan seseorang yang tidak pernah kita duga agar kita bisa mengambil pelajaran dari mereka. Entah pembicaraan dengan mereka yang bisa kita jadikan pelajaran, atau perbuatan mereka. Jika saat ini, Tuhan sedang mempertemukan kamu dengan seorang bajingan ataupun seorang berengsek, percayalah Tuhan dengan ingin memberikan pelajaran untukmu lewat mereka. Kadang, kita harus merasakan disakiti oleh seorang bajingan atau berengsek untuk menghidari kita menjadi salah satu bagian dari mereka. Dan kadang, kita dipertemukan dengan malaikat tak bersuara agar kita bisa menghargai betapa mahalnya suara kita, diri kita. Jika mereka yang kalian anggap tidak sempurna karna tidak memiliki suara bisa membela dirinya dan tidak membiarkan dunia membelah mereka dengan kehidupan normal kenapa kita yang katanya sempurna tidak mau membela diri sendiri dan malah membelah diri dengan kehidupan?. Sampai tulisan ini dibuat, aku masih saja memikirkan pertemuan dengan mereka tadi. Banyak yang ingin kuceritakan, namun sepertinya aku lebih memilih untuk termenung dan tersenyum mengingat perkenalan singkat yang sangat menyegarkan otakku tadi. Hahaha.
About
Popular Posts
-
I broke up with my make up Seriusan putus sama make up? hahaha engga lah. Make up is part of me, meskipun sempet di anggurin selama bebe...
-
Pagi ini pikiranku rancu, Mencoba mencari ingatan bagaimana kita bertemu. Lucunya tingkah lakumu masih menjadi candu bagiku. Ternyata...
-
Dari Lily untuk Grendy Dear Grendy Denting piano itu masih terdengar, di susul suara lembutmu dari sebrang sana. Aku tersenyum, hanya d...
-
Lewat kaca mata aku melihat Seuntai rambut panjang tergerai angin Senyum manis terlihat dari segaris pipi putih berseri Kaos oblomg ...
-
Sein, yang menarik dari kamu itu apa ya? Aku sampai lupa alasan jatuh cinta padamu Mungkin karna suara lembutmu yang mengajarkanku membaca m...
-
Purlooww Setelah ngebuang-buangin make up animal testing, gue mulai cari cari refrensi prodak pengganti mereka. Dan prodak prodak ini uda...
Blogger templates
Blog Archive
Search This Blog
Powered by Blogger.