Dari Lily untuk Grendy
Dear Grendy
Denting piano itu masih terdengar, di susul suara lembutmu dari sebrang sana. Aku tersenyum, hanya dengan mengingat suaramu. Kamu adalah cinta yang jatuh hanya dengan suara. Cinta tersuci yang pernah aku rasakan untuk orang asing yang baru aku temukan. Cinta yang hadir bukan dengan tampilamu, tapi justru apa yang ada didalam hatimu. Waktu 4 jam berbicara denganmu, sudah mampu membuatku mengerti betapa aku akan merindukanmu dimasa depan nanti. Meski tahu, perbedaan itu begitu jauh dan sangat terasa. Cinta itu tetap bejalan. Dan aku tetap diam. Aku tidak mau salah langkah. Aku tidak mau menyakitimu, dan aku berniat menjadikan ini sebagai cinta diam-diam. Menjadi salah satu penggemar rahasiamu. Entah aku yang terlalu bodoh, atau kamu yang terlalu peka. Tetap saja kamu memahami, perasaan yang aku tutup rapat ini. Sampai tiba waktunya, kamu berkata "bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?". Demi Tuhan aku bahagia, perasaanku tidak pupus. Perasaanku, ia terbalas. Aku sangat bahagia. Jadi aku lupakan sejenak perbedaan kita. Aku genggam tanganmu, dan berusaha menguatkanmu. Mengatakan semuanya baik-baik saja, Tuhan pasti berikan jalan. Aku tamak Gren, aku sombong. Aku lupa, kamu juga punya Tuhan. Dan kamu adalah hamba Tuhan yang setia. Berbeda dengan aku. Lalu, akupun belajar darimu cara mencintai Tuhan. Aku mendekat padanya, membaca kitabnya, mendengar khotbah tentangnya, mendengarkan lantunan pujian hambanya untuknya. Aku merasa aku pulang, aku bertemu dengan Tuhan. Tuhan yang selama ini aku cari, bersamamu aku menemukannya. Ada banyak tumpukan rindu yang datang ketika aku merasakan kehadirannya. Aku menikmati itu, hingga tiba satu ketakutan. Gren, jika aku tidak bersamamu bagaimana aku menemukan Tuhan?. Sedangkan aku merasa kamu adalah uluran tangan Tuhan untukku?. Bagaimana jika kamu pergi, aku harus kemana mencari Tuhan?. Aku tidak mau kehilangan Tuhanku lagi. Kamu tahu Gren, ada berapa banyak syair yang kutlis tentang Tuhan semenjak bertemu kamu?. Gren, bagaimana aku bisa membenci seseorang yang membawaku pada Tuhan?. Bagaimana bisa aku melupakan kebaikan seseorang yang mengenalkanku pada Tuhan?. Dan bagaimana bisa aku menyakiti seseorang yang mengajarkan aku ajaran Tuhan?. Gren, rasa cintaku padamu sebagian besar didominasi dari bentuk terima kasihku. Dimana rasa terima kasih itu berubah jadi bencana. Aku mulai egois, ingin memilikimu. Dimulai dari mimpi-mimpi indah yang sering terjadi. Izinkan aku cerita sedikit. Aku bermimpi, berjalan di altar dengan gaun putih panjang. Tudung putih menghiasi kepalaku, aku tersenyum bahagia sambil berjalan kearah laki-laki didepanku. Kamu. Yang beberapa hari lalu menungguku didepan pintu, mengulurkan tangan dan mengajakku masuk. Dengan jas putih, kamu berbalik kearahku. Tersenyum, yang disusul dengan memuji betapa cantiknya aku hari itu. Dan pernyataan bahwa kamu menerimaku dalam senang maupun susah, sakit maupun sehat. Gren, mungkin buatmu itu sekedar mimpi. Namun untukku, itu adalah harapan untuk mimpiku yang pernah hilang. Dalam hati, aku mendoakan agar mimpi itu bisa terjadi. Lalu disusul dengan mimpi aku berdiri disebrangmu, memangku anak kecil sambil mendengarkan khotbahmu. Aku berjalan keluar, kearah taman yang disusul olehmu. Kamu mengambil anak itu dari pangkuanku, kamu gendong dia tinggi dan kamu kecup jidatnya. Di saat itulah aku merasa, Tuhan sangat baik padaku. Benar benar baik. Bagaimana Tuhan bisa, pertemukan wanita sekotor aku dengan kamu. Dan menjadikan kamu ksatria untuk menuntun ku kembali padanya. Aku semakin tamak, sampai tiba rasa ingin memilikimu yang tidak sehat. Sering curiga dan takut kamu akan pergi. Karna dalam fikiranku. jika kamu pergi maka Tuhan juga akan pergi. Dan aku tidak mau itu terjadi. Aku juga tidak mau mimpiku menjadi kenyataan bagimu, tapi bukan dengan aku. Aku semakin banyak mau, aku rusak, aku lupa diri. Sampai aku merasa ini tidak benar, aku harus pergi darimu. Demi kebaikanmu, meskipun itu rasanya seperti menusukan seribu pisau kedadaku. Meninggalkanmu, adalah kesulitan yang tidak pernah aku duga. Berusaha meninggalkanmu, justru membuatku semakin mencintaimu. Membuatku semakin kacau, lupa diri. Gren, aku tidak bisa menjamin masa depanmu bersamaku. Tapi aku bisa menjamin bahwa perasaan cintaku adalah sesuatu yang nantinya akan kamu syukuri. Dan kelak, saat kamu sudah berumah tangga. Aku akan menjadi bagian dari cerita yang nantinya akan kamu dongengkan pada anak dan cucumu. Gren, bertemu denganmu adalah suatu anugrah Tuhan yang tidak akan pernah aku dustakan. Melepaskanmu dari perasaan ingin memiliki adalah bentuk pengorbanan cintaku untuk melihatmu bahagia dan berkembang sebagai manusia. Tertawa bersamamu adalah kebahagiaan untukku. Masa lalumu, adalah duka yang ingin aku pulihkan agar kamu melihatnya sebagai pelajaran. Dan mendoakanmu di setiap waktu, adalah satu satunya cara untuk mencintaimu tanpa menyakitimu lagi. Grendy, lewat tulisan ini aku ingin kamu tahu. Ada banyak terima kasih yang tidak bisa aku sampaikan secara langsung. Ada rasa takut yang mungkin kamu tidak paham. Suatu hari nanti, mungkin disaat Tuhan berkehendak. Kita bisa disatukan didalam ikatannya. Sampai saat itu tiba, izikan aku berada disampingmu sebagai sahabat. Atau entah sebagai apa, asal bisa melihatmu tertawa. Itu jauh dari cukup.....
Xoxo
T. Lily
Dear Grendy
Denting piano itu masih terdengar, di susul suara lembutmu dari sebrang sana. Aku tersenyum, hanya dengan mengingat suaramu. Kamu adalah cinta yang jatuh hanya dengan suara. Cinta tersuci yang pernah aku rasakan untuk orang asing yang baru aku temukan. Cinta yang hadir bukan dengan tampilamu, tapi justru apa yang ada didalam hatimu. Waktu 4 jam berbicara denganmu, sudah mampu membuatku mengerti betapa aku akan merindukanmu dimasa depan nanti. Meski tahu, perbedaan itu begitu jauh dan sangat terasa. Cinta itu tetap bejalan. Dan aku tetap diam. Aku tidak mau salah langkah. Aku tidak mau menyakitimu, dan aku berniat menjadikan ini sebagai cinta diam-diam. Menjadi salah satu penggemar rahasiamu. Entah aku yang terlalu bodoh, atau kamu yang terlalu peka. Tetap saja kamu memahami, perasaan yang aku tutup rapat ini. Sampai tiba waktunya, kamu berkata "bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?". Demi Tuhan aku bahagia, perasaanku tidak pupus. Perasaanku, ia terbalas. Aku sangat bahagia. Jadi aku lupakan sejenak perbedaan kita. Aku genggam tanganmu, dan berusaha menguatkanmu. Mengatakan semuanya baik-baik saja, Tuhan pasti berikan jalan. Aku tamak Gren, aku sombong. Aku lupa, kamu juga punya Tuhan. Dan kamu adalah hamba Tuhan yang setia. Berbeda dengan aku. Lalu, akupun belajar darimu cara mencintai Tuhan. Aku mendekat padanya, membaca kitabnya, mendengar khotbah tentangnya, mendengarkan lantunan pujian hambanya untuknya. Aku merasa aku pulang, aku bertemu dengan Tuhan. Tuhan yang selama ini aku cari, bersamamu aku menemukannya. Ada banyak tumpukan rindu yang datang ketika aku merasakan kehadirannya. Aku menikmati itu, hingga tiba satu ketakutan. Gren, jika aku tidak bersamamu bagaimana aku menemukan Tuhan?. Sedangkan aku merasa kamu adalah uluran tangan Tuhan untukku?. Bagaimana jika kamu pergi, aku harus kemana mencari Tuhan?. Aku tidak mau kehilangan Tuhanku lagi. Kamu tahu Gren, ada berapa banyak syair yang kutlis tentang Tuhan semenjak bertemu kamu?. Gren, bagaimana aku bisa membenci seseorang yang membawaku pada Tuhan?. Bagaimana bisa aku melupakan kebaikan seseorang yang mengenalkanku pada Tuhan?. Dan bagaimana bisa aku menyakiti seseorang yang mengajarkan aku ajaran Tuhan?. Gren, rasa cintaku padamu sebagian besar didominasi dari bentuk terima kasihku. Dimana rasa terima kasih itu berubah jadi bencana. Aku mulai egois, ingin memilikimu. Dimulai dari mimpi-mimpi indah yang sering terjadi. Izinkan aku cerita sedikit. Aku bermimpi, berjalan di altar dengan gaun putih panjang. Tudung putih menghiasi kepalaku, aku tersenyum bahagia sambil berjalan kearah laki-laki didepanku. Kamu. Yang beberapa hari lalu menungguku didepan pintu, mengulurkan tangan dan mengajakku masuk. Dengan jas putih, kamu berbalik kearahku. Tersenyum, yang disusul dengan memuji betapa cantiknya aku hari itu. Dan pernyataan bahwa kamu menerimaku dalam senang maupun susah, sakit maupun sehat. Gren, mungkin buatmu itu sekedar mimpi. Namun untukku, itu adalah harapan untuk mimpiku yang pernah hilang. Dalam hati, aku mendoakan agar mimpi itu bisa terjadi. Lalu disusul dengan mimpi aku berdiri disebrangmu, memangku anak kecil sambil mendengarkan khotbahmu. Aku berjalan keluar, kearah taman yang disusul olehmu. Kamu mengambil anak itu dari pangkuanku, kamu gendong dia tinggi dan kamu kecup jidatnya. Di saat itulah aku merasa, Tuhan sangat baik padaku. Benar benar baik. Bagaimana Tuhan bisa, pertemukan wanita sekotor aku dengan kamu. Dan menjadikan kamu ksatria untuk menuntun ku kembali padanya. Aku semakin tamak, sampai tiba rasa ingin memilikimu yang tidak sehat. Sering curiga dan takut kamu akan pergi. Karna dalam fikiranku. jika kamu pergi maka Tuhan juga akan pergi. Dan aku tidak mau itu terjadi. Aku juga tidak mau mimpiku menjadi kenyataan bagimu, tapi bukan dengan aku. Aku semakin banyak mau, aku rusak, aku lupa diri. Sampai aku merasa ini tidak benar, aku harus pergi darimu. Demi kebaikanmu, meskipun itu rasanya seperti menusukan seribu pisau kedadaku. Meninggalkanmu, adalah kesulitan yang tidak pernah aku duga. Berusaha meninggalkanmu, justru membuatku semakin mencintaimu. Membuatku semakin kacau, lupa diri. Gren, aku tidak bisa menjamin masa depanmu bersamaku. Tapi aku bisa menjamin bahwa perasaan cintaku adalah sesuatu yang nantinya akan kamu syukuri. Dan kelak, saat kamu sudah berumah tangga. Aku akan menjadi bagian dari cerita yang nantinya akan kamu dongengkan pada anak dan cucumu. Gren, bertemu denganmu adalah suatu anugrah Tuhan yang tidak akan pernah aku dustakan. Melepaskanmu dari perasaan ingin memiliki adalah bentuk pengorbanan cintaku untuk melihatmu bahagia dan berkembang sebagai manusia. Tertawa bersamamu adalah kebahagiaan untukku. Masa lalumu, adalah duka yang ingin aku pulihkan agar kamu melihatnya sebagai pelajaran. Dan mendoakanmu di setiap waktu, adalah satu satunya cara untuk mencintaimu tanpa menyakitimu lagi. Grendy, lewat tulisan ini aku ingin kamu tahu. Ada banyak terima kasih yang tidak bisa aku sampaikan secara langsung. Ada rasa takut yang mungkin kamu tidak paham. Suatu hari nanti, mungkin disaat Tuhan berkehendak. Kita bisa disatukan didalam ikatannya. Sampai saat itu tiba, izikan aku berada disampingmu sebagai sahabat. Atau entah sebagai apa, asal bisa melihatmu tertawa. Itu jauh dari cukup.....
Xoxo
T. Lily