Pagi ini pikiranku rancu,
Mencoba mencari ingatan bagaimana kita bertemu.
Lucunya tingkah lakumu masih menjadi candu bagiku.
Ternyata ingatanku tentang mu masih sebaik itu.
Bagaimana dulu aku memandangmu.
Bagaimana dulu aku menilaimu.
Dan bagimana dulu aku mengumpulkan keberanian untuk mencintaimu.
Semua kilas balik tentangmu masih terasa menyenangkan.
Memberikan banyak kebahagiaan.
Mengajarkan sedikit kesempurnaan.
Tentu saja mencintaimu butuh pengorbanan.
Dan menyukaimu merupakan sebuah larangan.
Namun entah bagaimana, aku masih berani.
Padahal aku tahu, kedepannya perasaan ini akan mati.
Aku tidak bisa menyalahkan siapapun atas ini.
Bukan karna kamu manusia tidak berhati.
Hanya saja, saat itu perasaan yang aku miliki belum berarti.
Bahkan ketika pada akhirnya, kaupun pergi.
Dengan segala kegoisanku yang bodoh.
Yang aku lakukan hanya membuatmu semakin menjauh.
Menjauhnya dirimu, mampu membuat ku berhenti melangkah.
Sambil menontonmu dalam diam dan resah.
Aku akhirnya memutuskan untuk pergi dan pasrah.
Ukiran senyummu masih tersimpan dengan rapih.
Hanya saja dari awal memang cinta ini tidak pernah dizinkan untuk bergairah.
Tidak banyak yang berubah dari kita.
Aku tetap melanjutkan aktivitasku, dan kau masih terlihat bahagia.
Sampai tiba saatnya.
Perpisahaan yang sebenarnya.
Ruangan itu menjadi saksi bisu ketika aku berdoa.
Percayalah, doa adalah pengantar rindu yang paling tidak berdosa.
Tidak pernah sedikitpun terpikirkan, hari ini kita akan saling bertatapan.
Perasaan yang sempat hilangpun kembali datang.
Belajar dari kesalahan, kali ini aku bertekad mencintaimu dalam diam.
Hanya akan membuatmu nyaman dan tertawa.
Tidak lagi ada paksaan.
Aku memilih untuk menghindari perpisahan lainnya.
Bertemu denganmu selalu saja berdekatan dengan bulan November.
Tuhan seperti punya cara untuk mengajak kita bercanda.
Kemarin Tuhan buat aku menangis di tanggal yang sama.
Sekarang Tuhan buat aku tertawa bahagia di tanggal yang sama.
Apa memang dari dulu hidup sudah selucu itu?.
Atau aku yang dari dulu hidup tidak pernah melucu?.
Aku tidak lagi menggebu untuk untuk mendapatkanmu.
Bahkan kutanamkan pada diri ini untuk tidak lagi berangan bersamamu.
Bukan karna dirimu yang ku pandang rendah.
Justru karna pandanganku padamu tidak pernah berubah.
Dan aku cukup tahu diri siapa aku.
Sehingga impianku bukan lagi mendapatkanmu.
Melainkan menjadi seseorang yang sangat dan selalu berarti untukmu.
Selamanya.
Sampai di kehidupan berikutnya.
Bertemu denganmu selalu saja berdekatan dengan bulan November.
Tuhan seperti punya cara untuk mengajak kita bercanda.
Kemarin Tuhan buat aku menangis di tanggal yang sama.
Sekarang Tuhan buat aku tertawa bahagia di tanggal yang sama.
Apa memang dari dulu hidup sudah selucu itu?.
Atau aku yang dari dulu hidup tidak pernah melucu?.
Aku tidak lagi menggebu untuk untuk mendapatkanmu.
Bahkan kutanamkan pada diri ini untuk tidak lagi berangan bersamamu.
Bukan karna dirimu yang ku pandang rendah.
Justru karna pandanganku padamu tidak pernah berubah.
Dan aku cukup tahu diri siapa aku.
Sehingga impianku bukan lagi mendapatkanmu.
Melainkan menjadi seseorang yang sangat dan selalu berarti untukmu.
Selamanya.
Sampai di kehidupan berikutnya.
Tapi Tuhan baik.
Kemarin pagi Tuhan berikan aku bukti kasih.
Yang bahkan dulu tidak berani untuk aku imajinasikan.
Saat itu sekitar jam 4 pagi.
Saat itu sekitar jam 4 pagi.
Dan kita masih asik bertukar cerita.
Yang kemudian berlanjut menjadi ajang kejujuran.
Tentang bagaimana kita, bagaimana perasaan kita.
Aku seperti remaja kembali, pipiku memerah dan kau tertawa mengetahuinya.
Jika saja aku tahu Tuhan akan berikan aku kesempatan untuk lebih dekat denganmu.
Aku akan jauh lebih sabar menghadapimu dari dulu.
Semoga disetiap detikmu kedepannya, terselipkan tawa dariku.
Selalu.
Semoga disetiap detikmu kedepannya, terselipkan tawa dariku.
Selalu.