Sunday, March 1, 2020

The Winter

Hari ini umurku 24, dua tahun sudah ulang tahun ku lewati tanpa senyumnya.
Tak ada lagi yang rajin berteriak selamat ulang tahun saat tengah malam.
Saat tahun pertama, aku pikir suasana hatiku masih berduka.
Sehingga malam spesial itu berlalu begitu saja.
Tapi malam ini, rasanya sama saja.
Tidak ada yang berbeda, aku sendiri ditemani pikiranku.
Mengingatkan aku kembali pada rasa sepi saat akhirnya kau benar-benar pergi.
Hari dimana kamu akhirnya benar-benar menutup matamu untuk selamanya.

Hari pertama, suasana duka itu sudah melekat didalam darahku.
Dalam suasana duka itu, pikiranku rancu tidak tahu apakah ini nyata atau hanya mimpi.
Saudara, kerabat, dan teman datang mengunjungi.
Mengulurkan tangannya, mengucapkan bela sungkawa dan terkesan berusaha menguatkan.
Beberapa dari mereka menangis, entah merasa kehilangan atau kasian pada kami yang sedang kehilangan.
Suasana rumah ramai, terdengar lantunan ayat suci dari berbagai arah.
Tapi aku tetap merasa sepi.
Kamu masih disini, terbaring diatas kasur kayu berwarna coklat.
Rambut panjang ikalmu masih tergerai dengan indah.
Kamu tidak terlihat kaku, kamu hanya terlihat seperti tertidur sambil tersenyum.
Wajah cantikmu tidak ada yang berubah.
Kamu tetap adikku yang paling cantik.

Hari Kedua, suasana duka itu seperti mengawang dan semakin mengawang.
Aku terbangun dari tidur, dan mencari sosokmu yang selalu tidur disamping kiriku.
Untuk sesaat aku lupa, dan luka itu kembali memasuki rongga dadaku.
Rasanya menyakitkan, saat terbangun dan kamu tidak ada di sisi kiriku.
Aku berlari keluar, dan sosokmu kembali terlihat diatas kasur kayu coklat itu.
Kamu tetap terlihat seperti tertidur.
Aku menampar wajahku, berharap terbangun dari mimpi buruk ini.
Tapi sekeras apapun tamparanku, aku tidak pernah terbangun.
Sekali lagi aku sadar ini bukan mimpi.
Dan semakin terasa bukan mimpi, saat orang orang itu membalutmu dengan kain putih.
Mendandani wajahmu dengan "riasan" itu.
Hari terakhir aku memoleskan riasan di wajah cantikmu.
Lalu orang-orang itu mulai membawamu dengan keranda hijau.
Takbir bergema dari mulut mereka, mengiringi mereka yang membawamu ke tempat peristirahatan terakhir,
Azan dikumandangkan, orang-orang mengelilingi.
Nafasku hampir terhenti, saat mereka mulai menutupi badanmu dengan papan kayu.
Sampai akhirnya aku tidak bisa lagi melihatmu.
Dan hari itu, kita benar-benar dipisahkan.
Kami semua tahu, kamu sudah "pergi".
Dan kami berusaha bertahan dengan senyuman.
Lalu keramaian yang pertama dirasakan mulai menghilang.
Satu persatu saudara, kerabat, dan teman mulai kembali kerumahnya.
Menyisakan aku dan keluargaku dalam hening.
Didalam kehilangan dan duka itu, rasa sesak kembali berkuasa atas tubuhku.
Menyaksikan papa, mama, dan adikku menangis kehilanganmu membuatku semakin tidak bisa bernafas.

Hari ketiga, masih dalam suasana duka.
Aku diperintahkan untuk menyembunyikan semua fotomu dirumah.
Bukan karna kami tidak lagi mencintaimu atau ingin melupakanmu.
Kesehatan papa seperti memburuk saat kamu pergi.
Sehingga aku ditugaskan untuk menyembunyikan semua foto-fotomu.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa tidak bersyukur masih diberikan kesempatan untuk bernafas.
Mengapa Tuhan memberikan aku nafas, jika Tuhan mengambil sesuatu yang sangat berharga bagiku.
Yang kehadirannya sepenting oksigen bagiku.
Mengapa Tuhan mengambil sumber kekuatanku, kebahagiaanku, kehidupanku.
Rasanya seperti Tuhan mengambil sebagian dari tubuhku, dan menyuruhku untuk tetap hidup dengan sebagian tubuhku yang ia tinggalkan.
Aku berdoa, untuk bisa bertemu dengannya kembali.
Dan aku benar-benar kembali bertemu denganmu dalam mimpi.
Dalam mimpiku, kamu masih hidup, dan kamu baik baik saja.
Tuhan seperti mempermainkanku.
Mengambil ragamu dalam kenyataan, dan menghidupkanmu dalam mimpiku.
Tidurku mulai terganggu, aku mulai sering terbangun di pagi buta.
Tidak bisa makan, tidak bisa tidur, bahkan tidak jarang aku harus berjuang untuk bernafas.
Dokter menyaranku untuk pergi ke psikolog, dan psikolog menyaranku untuk pergi ke psikiater.
Tidak ada satupun dari mereka yang berhasil membuatku kembali.
Aku masih tidak ingin menerima kenyataan.

Hari keempat, suasana duka yang membuatku berulang kali ingin mati.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menyakiti tubuhku.
Dimulai dari meminum obat penahan rasa sakit.
Sampai berusaha untuk memukul, bahkan menyilet diriku.
Semua yang kulakukan, tidak ada yang berhasil membuatku merasakan sakit.
Aku ingin merasakan sakit yang lebih besar dari apa yang dirasakan oleh hatiku.
Setidaknya saat itu, aku berpikir cara itu berhasil.
Namun tidak ada satupun caraku yang berhasil membuatku merasakan sakit.

Aku sendirian.
Tidak ada tempat untuk mengadu.
Aku membenci tatapan kasian dari orang orang disekitarku.
Aku berusaha untuk kuat, walau rasanya ingin sekali untuk mati.
Tidak sedikit yang menertawakanku, atau justu mencelaku.
Dimulai dari kata lemah, sampai kafir ditunjukkan untukku.
Hanya karna aku merasa kesepian.
Hanya karna aku merasa belahan hatiku pergi.
Hanya karna aku merasa tidak lagi semangat untuk hidup.
Mereka tidak tahu, berapa banyak rencanaku yang terhenti saat kamu menghembuskan nafas terakhirmu.
Dunia seperti sepakat untuk menjatuhkanku.
Saat mereka mengambil bagian dalam diriku, aku masih berusaha tegar.
Karna aku tahu, ada kamu dirumah yang menungguku.
Lalu tiba-tiba semangatku, nafasku, direnggut.
Dan dunia tidak ingin memberikan kesempatan untukku berduka.
Tuhan terlihat samar bagiku.
Manusa terlihat menyeramkan untukku.
Rasanya aku ingin menyerah.

Aku tidak lagi berjuang untuk melawan dunia.
Aku berjuang untuk diriku setiap harinya agar bernafas.
Aku berjuang untuk diriku setiap harinya agar tidak melakukan hal-hal yang dapat menyakitiku.
Aku berjuang untuk diriku setiap harinya agar bisa bahagia.
Aku berjuang untuk diriku setiap harinya agar bisa menerima kenyataan.
Tanpa uluran tangan siapapun, tanpa genggaman tangan siapapun.

Dan karna aku pernah merasakannya.
Dan karna aku tahu bagaimana sulitnya.
Dan karna aku paham sesakit apa.
Aku berusaha untuk hadir disetiap luka sekitarku.
Berusaha menjadi penghibur, dan menutup lukanya.
Mengerti keadaan sekitarku, memaklumi keadaan sekitarku.
Walau kadang kadang rasanya sangat tidak menyenangkan untukku.
Walau kadang kadang rasanya menyakitkan

Dan entah sejak kapan, rasa sakit itu seperti sebuah candaan.
Tidak ada lagi hal didunia ini yang rasanya menandingi rasa sakitku saat kehilangamu.
Sehingga sesakit apapun aku saat ini.
Bahkan jika harus berbagi kebahagiaan dengan yang lain.
Asal mereka tidak merasakan rasa sakit yang dulu pernah aku rasakan saat kehilanganmu.
Aku bisa menahannya.
Aku pasti bisa menahannya.
Yang perlu aku lakukan hanya bersikap biasa.
Aku hanya perlu bernafas, meangkat daguku, menatap kedepan, dan berjalan.

Rasa sakit itu seperti salju bagiku.
Saat pertama datang, ia datang bertubi-tubi meninggalkan rasa dingin.
Hanya rasa dingin, dan beberapa butiran salju yang menempel pada hatiku.
Lalu, lama kelamaan ia bertumpuk.
Tidak hanya membekukan, tapi juga menutupi sebagian hatiku.
Dan karna aku sudah terbiasa dengan rasa dingin itu dihatiku.
Lama kelamaan aku seperti berteman baik, dan saat ia hadir aku tersenyum.
Walaupun aku tahu, ia akan meninggalkan banyak butiran salju pada hatiku.
Dan mungkin suatu saat akan membuat hatiku benar-benar berhenti karna dinginnya, saat aku sudah tidak bisa lagi mencari matahari.


Wednesday, January 29, 2020

06 Desember 2000

Aku rindu, tidak ada satu malam lepas dari wajahmu
Dulu berpergian terasa begitu mudah, ada kamu yang selalu merengek untuk ikut
Jam 12 malam adalah waktu terbaik untuk kita bertukar cerita
Bahkan untuk berdiri didepan kompor panas hanya untuk membuatkanmu sepiring makanan
Pasar menjadi surga bagiku, karna disana aku bisa berburu bahan makanan spesial untukmu
Baunya pasar menjadi bukan apa apa ketika aku mengingat ekspresimu ketika makan
Tidur pagi merupakan sebuah kewajiban karna aku harus memastikanmu tidur lebih awal
Kamu mungkin terlihat judes dan galak, padahal kapas saja tidak selembut hatimu
Senyummu sederhana, tapi ada kehangatan yang tidak akan tergantikan
Cahaya adalah kata yang tepat untukmu, karna kamu adalah penerang kami semua
Masa depan kami belum jelas, tapi kami tahu jalan yang akan kami tapakki
Aku, aku tahu jalan yang akan aku pilih
Didalam otakku yang mungil ini, terbayang aku sedang membangun sekolah untuk anak anak
Dan kamu adalah tenaga pertama yang aku butuhkan
Aku tidak tergiur bekerja diperusahaan, bagiku memiliki usaha kecil denganmu sudah melebihi kata cukup
Aku menuruti perkataanmu, jika bagimu pasanganku tidak baik dan kau tidak menyukainya akan ku lepaskan
Aku bahagia mengenalkanmu kepada lingkunganku walaupun mereka tidak yakin kita saudara kandung
Aku yang dulu sempat membenci keberadaanmu perlahan justru menjadikanmu prioritas hidupku
Lalu tuhan jahat
Setidaknya bagiku saat itu tuhan jahat
Tuhan ambil satu satunya manusia yang membuatku kuat dan bertahan
Bukan saja runtuh, duniaku hilang
Sebagian jiwaku hilang
Aku marah, tapi tidak tahu kepada siapa
Menangis saja tidak cukup sebagai ungkapanku atas kehilanganmu
Mati adalah kata yang berkali kali terbesit dikepalaku
Aku mau mati
Aku mau menyusulmu
Aku mau berada didekatmu
Lalu setelah kepergianmu hari terasa berat
Bernafas terasa sangat menyakitkan
Pintu didalam hidup dan diriku, aku tutup rapat dan sempurna
Tidak boleh ada yang tau aku seterpuruk ini
Karna marahku pada Tuhan, aku berniat meninggalkannya
Lalu hidupku semakin sengsara, duka seperti memelukku erat dengan senyuman
Dan kegelapan mulai menyelimuti kehidupanku, mengalir di dalam nadiku, berdenyut di dalam jantungku
Aku, duka, sengsara, dan kegelapan perlahan saling merangkul seperti teman baik
Jujur aku menyukainya dan itu sangat nyaman bagiku
Tapi realita tidak kalah jahat dengan Tuhan, ia tidak ingin aku bersahabat dengan mereka 
Ia ingin aku sadar, kembali
Ia berteriak padaku “ayo hidup lagi!!”
Tubuhku serasa ditarik kedua sisi, rasanya sakit sampai aku ingin merobek badanku menjadi dua
Bangun tidur kemudian menjadi aktifitas paling menyebalkan dalam keseharianku
Aku harus menentukan apakah hari ini aku akan menjadi orang yang bahagia?
Dan apakah aku hari ini harus berjuang melawan diriku lagi untuk bisa bernafas?
Dek, aku lelah 
Aku takut sekali mati, tapi hidup tanpamu rasanya seperti terbaring koma
Kadang muncul dalam pikiranku, kenapa harus tante kita yang kau jemput
Kenapa bukan aku?
Aku rindu, rasanya mau mati saking merindu