Wednesday, January 29, 2020

06 Desember 2000

Aku rindu, tidak ada satu malam lepas dari wajahmu
Dulu berpergian terasa begitu mudah, ada kamu yang selalu merengek untuk ikut
Jam 12 malam adalah waktu terbaik untuk kita bertukar cerita
Bahkan untuk berdiri didepan kompor panas hanya untuk membuatkanmu sepiring makanan
Pasar menjadi surga bagiku, karna disana aku bisa berburu bahan makanan spesial untukmu
Baunya pasar menjadi bukan apa apa ketika aku mengingat ekspresimu ketika makan
Tidur pagi merupakan sebuah kewajiban karna aku harus memastikanmu tidur lebih awal
Kamu mungkin terlihat judes dan galak, padahal kapas saja tidak selembut hatimu
Senyummu sederhana, tapi ada kehangatan yang tidak akan tergantikan
Cahaya adalah kata yang tepat untukmu, karna kamu adalah penerang kami semua
Masa depan kami belum jelas, tapi kami tahu jalan yang akan kami tapakki
Aku, aku tahu jalan yang akan aku pilih
Didalam otakku yang mungil ini, terbayang aku sedang membangun sekolah untuk anak anak
Dan kamu adalah tenaga pertama yang aku butuhkan
Aku tidak tergiur bekerja diperusahaan, bagiku memiliki usaha kecil denganmu sudah melebihi kata cukup
Aku menuruti perkataanmu, jika bagimu pasanganku tidak baik dan kau tidak menyukainya akan ku lepaskan
Aku bahagia mengenalkanmu kepada lingkunganku walaupun mereka tidak yakin kita saudara kandung
Aku yang dulu sempat membenci keberadaanmu perlahan justru menjadikanmu prioritas hidupku
Lalu tuhan jahat
Setidaknya bagiku saat itu tuhan jahat
Tuhan ambil satu satunya manusia yang membuatku kuat dan bertahan
Bukan saja runtuh, duniaku hilang
Sebagian jiwaku hilang
Aku marah, tapi tidak tahu kepada siapa
Menangis saja tidak cukup sebagai ungkapanku atas kehilanganmu
Mati adalah kata yang berkali kali terbesit dikepalaku
Aku mau mati
Aku mau menyusulmu
Aku mau berada didekatmu
Lalu setelah kepergianmu hari terasa berat
Bernafas terasa sangat menyakitkan
Pintu didalam hidup dan diriku, aku tutup rapat dan sempurna
Tidak boleh ada yang tau aku seterpuruk ini
Karna marahku pada Tuhan, aku berniat meninggalkannya
Lalu hidupku semakin sengsara, duka seperti memelukku erat dengan senyuman
Dan kegelapan mulai menyelimuti kehidupanku, mengalir di dalam nadiku, berdenyut di dalam jantungku
Aku, duka, sengsara, dan kegelapan perlahan saling merangkul seperti teman baik
Jujur aku menyukainya dan itu sangat nyaman bagiku
Tapi realita tidak kalah jahat dengan Tuhan, ia tidak ingin aku bersahabat dengan mereka 
Ia ingin aku sadar, kembali
Ia berteriak padaku “ayo hidup lagi!!”
Tubuhku serasa ditarik kedua sisi, rasanya sakit sampai aku ingin merobek badanku menjadi dua
Bangun tidur kemudian menjadi aktifitas paling menyebalkan dalam keseharianku
Aku harus menentukan apakah hari ini aku akan menjadi orang yang bahagia?
Dan apakah aku hari ini harus berjuang melawan diriku lagi untuk bisa bernafas?
Dek, aku lelah 
Aku takut sekali mati, tapi hidup tanpamu rasanya seperti terbaring koma
Kadang muncul dalam pikiranku, kenapa harus tante kita yang kau jemput
Kenapa bukan aku?
Aku rindu, rasanya mau mati saking merindu